Siasati Mahalnya Pakan Ternak, Begini Strategi Peternak Ayam di Sulawesi Barat

Peternak ayam di Polewali Mandar. (Sariagri/Rifky Junaedi)

Editor: Tatang Adhiwidharta - Jumat, 24 September 2021 | 17:40 WIB

Sariagri - Beragam cara peternak ayam di Polewali Mandar, Sulawesi barat mensiasati anjloknya harga telur di tengah melambungnya harga pakan di pasaran. Sebagian peternak terpaksa mengurangi porsi makan pada ayamnya, hingga memilih menjual sebagian stok ayamnya karena tak mampu membeli pakan yang mahal.

Sementara pedagang lainnya memilih menggudangkan produksi telurnya sampai harga telur ayam di pasaran dinilai menguntungkan. Harga pakan ayam yang terus melambung tinggi sejak beberapa pekan terakhir mebuat sejumlah peternak ayam di Desa Campurjo, Kecamatan Wonomulyo mengeluh.

Dengan harga jual telur yang melambung membuat mereka tak mampu menutupi biaya produksi yang mahal. Bahkan saat yang sama, harga pakan ayam justru melambung tinggi, hingga para peternak ayam terjepit.

Mahalnya biaya produksi membuat sejumlah peternak ayam dmemilih menjual sebagian ternak ayamnya, lantaran ia tak sanggup membeli pakan yang mahal.

Diketahui harga pakan ayam saat ini senilai Rp 330,000 per 50 kilogram, padahal sebelum ada kenaikan harga pakan ayam per 50 kg 300.000. Dalam jangka waktu sebulan terakhir para peternak mengaku bingung mensiasati keadaan lantaran harga pakan tiga kali mengalami kenaikan.

Sebelumnya peternak bisa menjual telur ayam mereka Rp48 ribu per rak isi 30 butir, namun sekarang turun hingga Rp30 ribu per rak. Harga ini dinilai para peternak sangat tidak menguntungkan. Bahkan harga tersebut malah membuat petani merugi lantaran ia tak bisa membayar biaya operasional mereka, termasuk biaya pembelian bibit dna sarana produksi lainnya.

Lina kumarifa, peternak ayam di Polewali Mandar yang memiliki ayam 1.000 ekor ayam terpaksa menjual sebagian ternak ayamnya lantaran tak mampu membeli pakan yang mahal dalam jumlah besar. Saat ini sisa ayam di kandang milik Lina hanya tersisa 500 ekor ayam. Selebihnya atau 500 ekor telah dujual ke pasaran agar bisa mensiasati keadaan.

“Stok ayam saya jual hingga 50 persen, terus pakanya dikurangi karena tak mampu mebeli harga oakan yang mahal, apalagu saat yang sama justru harga telkurnya anjlok dna tak bisa menutupi biaya operasional peternak,”jelas Lina kumarifa.

Menurut Lina keputusannya mengurangi jumlah ayam dnegan cara menjualnya sebagian indukannya sangat dilematis. Sementara pilihannya mengurangi jumlah pakan dari pemberian normal biasnaya justru berdampak pada produksi telurnya yang menurun drastis dari biasanya mencapai 18 – 20 rak per hari, turun hingga 10 rak saja setiap hari .

Seperti halnya Lina, Wawan yang memilih mengurangi jumlah pakan dari pemberian normal sebelumnya justru berdampak buruk terhadap produksi telur. Ayam yang kurang pasokan makanan tidak bisa berproduksi lagi atau tidak bertelur lagi.

Baca Juga: Siasati Mahalnya Pakan Ternak, Begini Strategi Peternak Ayam di Sulawesi Barat
Pemprov Gorontalo Tambah Kandang Pembibitan Ayam Kampung Super

“Makannya dikurangi ternyata itu berdampak pada produksi telur yang juga ikut turun atau anjlok,”jelas Wawan.

Demi kelangsung usahanya di masa pendemi ini, seperti pedagang lainnya, Lina berharap adanya perhatian pemerintah agar harga pakan ayam, termasuk harga jagung di pasaran bisa dinetralisir agar biaya produksi mereka bisa saling menutupi dengan harga jual telur ayamnya, agar usaha mereka tetap jalan atau tidak bangkrut. 

 Video terkait:

Video Terkait