Jemput Peluang, Ini Kisah Slamet yang Sukses Beternak Burung Puyuh

Ilustrasi burung puyuh. (Foto: Istimewa)

Penulis: Tatang Adhiwidharta, Editor: Reza P - Jumat, 13 Agustus 2021 | 19:20 WIB

Sariagri - Puyuh merupakan salah satu hewan ternak yang memiliki potensi keuntungan yang menjanjikan bagi pembudidaya. Hewan penghasil telur terbesar kedua setelah ayam ras petelur ini, cukup diminati dan mendatangkan omzet hingga miliaran rupiah.

Selain telur dan daging yang dimanfaatkan dari hewan endemik asli Indonesia, kotorannya pun mampu menumbuhkan pundi-pundi rupiah. Slamet Wuryadi merupakan peternak yang telah merasakan hasil dari beternak puyuh tersebut.

“Saya melirik ini (beternak puyuh) ada semacam pemenangnya yaitu demandnya (permintaan) yang selalu menunggu,” ujarnya seperti dikutip Sariagri.id dari channel Youtube TV Tani Indonesia, Jumat (13/8/2021).

Slamet mengungkapkan bahwa berbisnis puyuh sangat menguntungkan bagaimana tidak produktivitasnya juga sangat cepat dan berkelanjutan. Dikatakannya, telur puyuh dalam 17 hari sudah dapat ditetaskan, lalu 30 hari dipelihara di dalam kandang, kemudian 30-40 hari disiapkan sebagai calon petelur.

“Inilah yang membuat usaha ini sangat profitable, suistanable, dan layak direkomendasikan critical point pertama adalah budidayanya mudah, menggunakan sarana lokal ada semua, ketergantungan bibit tidak ada sehingga lewat puyuh ini bisa disebut quick building,” jelasnya.

Slamet mengungkapkan bahwa ternak puyuhnya dimulai dari 600 butir telur yang ditetaskan, namun setelah banyak memakan asam dan garam dari bisnisnya, dia mampu memberikan kontribusi populasi puyuh di Indonesia sebesar 14,8 juta ekor.

“Dari 600 butir yang saya gerakan terus dengan sistem perkawinan silang (cross breeding), makanya kena bibit kita dapat julukan unggul karena dikawinkan tidak sedarah, tidak se-ibu se-bapak. Inilah salah satu kunci keberhasilan yang harus saya ungkap,” ungkapnya.

Baca Juga: Jemput Peluang, Ini Kisah Slamet yang Sukses Beternak Burung Puyuh
Pemprov Gorontalo Tambah Kandang Pembibitan Ayam Kampung Super

Lebih lanjut, Slamet menambahkan bahwa selain menjadi pembudidaya dia juga bergerak sebagai penyuluh bagi petani puyuh. Dikatakannya, saat ini terdapat 300 UKM di Indonesia diberikan sarana untuk menimba ilmu di tempat pelatihan puyuhnya tersebut.

“Rata-rata cukup kisaran tiga hari mereka sudah pintar menguasai hulu hingga hilir serta pasca panen. Ini adalah kegiatan yang saya kira inspiratif karena harus ada contohnya, harus ada rekam jejaknya,” tandasnya.

Video Terkait