Luar Biasa, Cina Ubah Gurun Tandus Jadi Lokasi Peternakan Sapi Perah

Ilustrasi peternakan sapi. (Pixabay/NickyPe)

Editor: M Kautsar - Minggu, 28 November 2021 | 13:00 WIB

Sariagri - Dalam Konferensi Nasional Nuffield Australia 2021, pakar Pertanian Paul Niven menceritakan bagaimana ia menyaksikan Cina memanfaatkan inovasi dan teknologi untuk menciptakan peternakan yang produktif di sebuah gurun tandus, seperti dilansir dari laman Farm Online.

Niven pindah ke Cina pada tahun 2015 untuk menjalankan bisnis Pure Source Dairy, usaha patungan antara Fonterra dan Abbott. Perusahaan itu memiliki 8.000 ekor sapi dan 5.000 hektare tanaman.

Niven juga menjadi ketua konsultan bisnis peternakan sapi perah di Asian Agribusiness Consulting, bekerja dengan perusahaan susu skala besar di Cina untuk membangun peternakan baru dan meningkatkan kinerjanya.

Dia menawarkan gambaran tentang praktik unik yang diterapkan di Cina untuk mengubah Gurun Alpine yang tandus di provinsi barat laut negara itu.

“Ada pekerjaan berskala sangat besar dan memungkinkan secara sosial di Cina untuk merehabilitasi jenis tanah yang telah ditinggalkan selama ratusan tahun ini, sering kali di tempat antah berantah,” kata Niven.

Curah hujan tahunan di beberapa daerah yang direhabilitasi hanya sekitar 200 milimeter. “Mereka bisa menanam di sini hanya karena air yang tersedia,” ujar Niven.

Para pekerja mulai dengan membagi bukit pasir menjadi area kecil. Kemudian, mereka membuat pagar kecil dengan desain mirip pagar kayu di peternakan. Rumput kecil pun mulai terbentuk.

Pipa irigasi yang menetes lalu ditutup. Setelah jangka waktu sekitar dua tahun, mereka mulai menumbuhkan pohon. Ada program yang sudah mapan di mana orang dapat berinvestasi dalam proses rehabilitasi.

Perusahaan seperti Alibaba menawarkan beberapa pilihan bagi pelanggannya untuk menyumbangkan kredit mereka untuk membeli pohon dan merehabilitasi lahan gurun. “Anda bisa melihat infrastruktur dibangun secara langsung dan memanfaatkan lahan yang sejujurnya sangat, sangat tidak produktif,” terang Niven.

Menurut Niven, mereka mampu memanfaatkan air yang dimiliki dan akan menanam jagung di lahan itu dalam waktu sekitar dua tahun. Jangka waktu itu sesuai lini masa yang mereka gunakan dalam berbagai proyek rehabilitasi.

“Pekerjaan ini dilakukan dengan tenaga kerja yang sangat murah dan sangat padat karya,” tambah Niven.

Namun Niven juga mengatakan bahwa walau Cina telah menganut teknik pertanian yang maju, tetapi belum seluruhnya sempurna. Di satu sisi Cina fokus pada pengembangan teknologi tinggi, sementara di sisi lain masih tetap menggunakan sistem pertanian dasar seperti tahun 1950-an.

Baca Juga: Luar Biasa, Cina Ubah Gurun Tandus Jadi Lokasi Peternakan Sapi Perah
Serang Ternak Sapi, Puskeswan Daerah Ini Tangani Penyebaran Virus Jembrana

“Seperti yang kita semua tahu, drone merupakan alat yang berguna di bidang pertanian. Di Cina, mereka mulai menggunakan drone untuk menyemprot tanaman, terutama untuk herbisida dan beberapa pestisida,” terang Niven.

Akan tetapi, tambah Niven, mereka mencampur bahan kimia pestisida itu di dalam truk tanpa menggunakan alat pelindung diri dan tanpa tingkat pengenceran yang jelas.

Video Terkait