Masyarakat Lamping Kidang Kuningan, Mulai Manfaatkan Limbah Kohe jadi Pupuk Organik

Proses pembuatan pupuk organik. (Dok. Balai TNGC)

Editor: M Kautsar - Senin, 30 Agustus 2021 | 19:40 WIB

Sariagri - Sejumlah masyarakat yang tinggal di dekat area wisata alam Lamping Kidang, Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC), Desa Cisantana, Kuningan, Jawa Barat, mulai memanfaatkan limbah kotoran hewan (kohe) ternak sapi untuk dijadikan sebagai pupuk organik.

Bekerjasama dengan Balai TNGC, Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Kuningan, dan pihak lainnya, kelompok masyarakat Lamping Kidang ini mencoba menyulap kohe menjadi pupuk organik padat dan cair.

Menurut Kepala Balai TNGC, Teguh Setiawan, pengolahan kohe sebagai pupuk organik ini dimaksudkan untuk mengurangi dampak pencemaran lingkungan akibat banyaknya kotoran sapi, khususnya di daerah Cisantana. Selain itu, kegiatan tersebut bisa menjadi 'role model' untuk kawasan wisata yang terintegrasi dengan proyek pertanian sehat.

"Pengolahan limbah kohe ini akan kami padukan dengan formula ‘role model’ Pertanian Sehat. Sehingga nanti Lamping Kidang akan menjadi kawasan integras antara pertanian, pengolahan limbah Kohe, sampah domestik, dan wisata alam," kata Teguh dalam keterangan resminya, Senin (30/8).

"Hal ini guna menangani pencemaran lingkungan terutama air bagi masyarakat sekitarnya," ujar Teguh.

Sementara itu, Kepala Resor Pemanfaatan I Kuningan, Ahmad Fuad menjelaskan, saat ini kegiatan pengolahan kohe menjadi pupuk organik ini baru berjalan sekitar 60 persen. Khususnya dalam pembangunan instalasi. Rencananya, akan ada dua bak tampung berukuran 3 meter x 2 meter dengan tinggi 1,5 meter. 

Salah satu bak, kata dia, berfungsi menampung dan menyaring kohe dengan kapasitas 3 sampai 5 meter kubik. Kemudian, dari bak ini akan tercipta pupuk organik padat. Sedangkan, bak lainnya berfungsi untuk menampung cairan kohe yang menghasilkan pupuk organik cair dengan kapasitas maksimal 9 meter kubik.

"Balai TNGC melalui kucuran dana peningkatan usaha ekonomi masyarakat sedang membuat instalasi pengolahan limbah secara tradisional," papar Ahmad.

Hal senada juga disampaikan Ketua Lamping Kidang, Kang Ida. Ia menerangkan,   nantinya limbah kohe akan dikumpulkam dan diaduk di dalam instalasi tersebut. Kemudian, setelah 14 hari, pupuk organik padat maupun cair akan didapat.

Baca Juga: Masyarakat Lamping Kidang Kuningan, Mulai Manfaatkan Limbah Kohe jadi Pupuk Organik
Pemanfaatan Cangkang Telur untuk Pupuk dan Biopestisida

"Kohe diangkut dan ditumpuk ke bak tampung sambil diaduk. Nah, secara perlahan dalam waktu dua minggu, kohe akan mengering karena cairannya merembes ke bagian bawah bak lalu mengalir ke bak penampungan sebelahnya," imbuhnya.

"Jadi, dengan cara tradisional, kita mesti menunggu 14 hari untuk menghasilkan pupuk organik padat dan cair," ucap dia.

Sekedar diketahui, pengolahan limbah kohe menjadi pupuk organik sudah dilakukan secara turun-temurun oleh masyarakat dengan cara tradisional. Akan tetapi, pada kegiatan tersebut, pengolahan kohe dilakukan memakai cara modern dengan bantuan mesin dan beberapa formula.

Video Terkait