Populasi Kupu-kupu Turun Drastis, Ini Kata Ilmuwan

Ilustrasi kupu-kupu (Pexels)

Penulis: Dera, Editor: Arif Sodhiq - Senin, 8 Maret 2021 | 12:20 WIB

SariAgri - Populasi serangga seperti kupu-kupu semakin berkurang. Para ilmuwan menduga hal tersebut diakibatkan oleh penggunaan pestisida dan bahan kimia lainnya dalam dunia tanam dan pertanian.

Namun, seperti diberitakan Science mag, penyebab utama berkurangnya populasi kupu-kupu dan serangga lainnya disebabkan oleh musim gugur dengan suhu yang lebih tinggi dari biasanya. Para ilmuwan bahkan berpendapat musim gugur beberapa tahun belakangan bersuhu melebihi suhu panas.

Awalnya, para ilmuwan menduga kemusnahan populasi kupu-kupu karena penggunaan pestisida dan daerah padat penduduk atau pertanian yang intensif.

Beberapa ilmuwan seperti Jessica Ware, ahli entomologi di Museum Sejarah Alam Amerika, Art Shapiro, ahli ekologi serangga di University of California, Davis, dan rekannya, serta Matthew Forister, ahli ekologi serangga di Universitas Nevada, Reno, Scott Hoffman Black, seorang ahli ekologi dan direktur eksekutif Xerces Society for Invertebrate Conservation melakukan penelitian terkait fenomena tersebut.

Ilmuwan sudah tahu beberapa kupu-kupu sedang bermasalah. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa raja mengalami penurunan tajam, bahkan survei serangga secara umum menunjukkan jumlah yang menyusut. Namun sebagian besar data untuk studi ini berasal dari daerah padat penduduk atau pertanian intensif.

Kupu-kupu mengalami risiko luar biasa ketika berada di luar ruangan. Shapiro dan Davis menunjukkan bahwa selama 35 tahun terakhir, kupu-kupu mengalami kepunahan bahkan di kawasan lindung yang masih asli seperti pegunungan Sierra Nevada di Amerika Serikat bagian Barat.

Para ilmuwan tersebut pun mengumpulkan data dari Asosiasi Kupu-kupu Amerika Utara. Asosiasi ini telah mengoordinasikan jumlah kupu-kupu di seluruh Amerika Serikat selama lebih dari 42 tahun.

Secara keseluruhan, para peneliti melacak nasib dari 450 spesies kupu-kupu dari 70 lokasi di Amerika Serikat bagian barat.

Hasilnya, populasi kupu-kupu telah mengalami penurunan rata-rata 1,6 persen per tahun antara 1977 dan 2018. Dari dua set data yang digunakan diketahui sebanyak lima puluh spesies menurun.

Salah satunya checkerspot Edith (Euphydryas editha), nahkoda pedesaan (Ochlodes pertanian) dan tembaga besar (Lycaena xanthoides). Bahkan mereka meyakini beberapa spesies mungkin telah benar-benar hilang dari sebagian wilayah jelajahnya.

Penurunan itu tampaknya tidak terkait dengan perkembangan manusia atau penggunaan pestisida, meskipun aktivitas semacam itu masih dapat menimbulkan masalah. Sebaliknya, serangga tampaknya menghilang di daerah di mana suhu musim gugur telah meningkat secara signifikan lebih dari suhu musim panas selama beberapa dekade terakhir, seperti di Barat Daya AS.

Baca Juga: Populasi Kupu-kupu Turun Drastis, Ini Kata Ilmuwan
Fakta Mengejutkan, Belut Listrik Ternyata Setrum Mangsa Secara Berkelompok

Cuaca yang lebih hangat dapat mengganggu siklus perkembangbiakan kupu-kupu atau berdampak negatif pada tanaman tempat mereka bergantung.

“(Studi baru) berhasil menangani data yang secara inheren berantakan,” kata Scott Hoffman Black, seorang ahli ekologi dan direktur eksekutif Xerces Society for Invertebrate Conservation.

Kupu-kupu merupakan penyerbuk utama. Penurunan populasi tentu menjadi masalah besar untuk tanaman dan ekosistem.

“Efek iklim hampir pasti akan mempengaruhi banyak serangga lain, termasuk lebah,” ujar Forister.

Tak hanya itu, penelitian tahun 2019 menemukan penurunan jumlah kupu-kupu di Ohio.

Video Terkait