Konsultan Bisnis Global Sebut Indonesia Masih Impor Sapi Hidup

Ilustrasi sapi impor (Pxhere)

Editor: Tanti Malasari - Rabu, 29 Juni 2022 | 19:15 WIB

Sariagri - Sariagri - Indonesia sampai saat ini masih mengimpor sapi hidup dari berbagai negara dalam jumlah besar mencapai ratusan ribu ekor. Selain dari Australia, Indonesia juga mengimpor dari India, Selandia Baru, Brazil, and AS.

Mengapa Indonesia masih mengimpor? ASEAN Briefing, konsultan bisnis global menyebut, salah satu alasannya adalah pasar domestik Indonesia yang terfragmentasi dan output peternakan yang rendah.

Industri sapi di Indonesia sangat terfragmentasi dan sekitar 80 persen didominasi oleh peternak kecil yang sebagian besar terkonsentrasi di pulau Jawa, terutama Provinsi Jawa Timur yang menyumbang 30 persen dari populasi sapi di Indonesia.

Petani/peternak kecil sering memelihara ternak untuk tabungan mereka daripada untuk pasar komersial, yang secara signifikan menghambat potensi pasokan daging dalam negeri.

Sebagian besar peternak sapi juga merupakan peternak berketerampilan rendah yang memiliki sistem produksi input rendah, output rendah, dan menghadapi tantangan mendasar untuk mengembangkan bisnis sapi mereka.

Tantangan peternak kecil ini termasuk terbatasnya akses ke keuangan dan modal, kurangnya agunan, dan sektor keuangan lokal yang berhati-hati dalam memberikan pinjaman karena risiko yang melekat. Akibatnya, produksi dalam negeri hanya mampu memenuhi sekitar 40 persen kebutuhan daging sapi Indonesia.

Sebelumnya, pemerintah berinisiatif untuk mempromosikan swasembada produksi daging, seperti menetapkan kuota impor dan kebijakan impor 5+1 feeder-breeder, untuk mempromosikan kawanan sapi domestik.

Namun, program-program tersebut belum efektif dalam memenuhi permintaan daging sapi Indonesia yang terus meningkat, demikian ASEAN Briefing.

Selain itu, infrastruktur industri peternakan sapi Indonesia saat ini masih berfokus pada rumah potong hewan dan feedlot, yang cocok dengan usaha penggemukan sapi tetapi tidak cocok untuk pembiakan sapi.

Biaya transportasi tinggi

Biaya transportasi antar pulau yang tinggi juga membuat sapi dan daging dalam negeri harganya mahal. Indonesia adalah salah satu negara dengan biaya logistik tertinggi di Asia Tenggara, menyumbang 24 persen dari PDB, dibandingkan dengan tujuh persen di Singapura dan 13 persen di Malaysia.

Mahalnya biaya logistik ini memang tidak terlepas dari pembangunan infrastruktur yang tidak seimbang dengan ukuran negara, yang mencakup lebih dari 17.000 pulau. Hal ini mengakibatkan distribusi barang yang membutuhkan transportasi laut, darat, dan udara, sehingga meningkatkan kompleksitas logistik.

Baca Juga: Konsultan Bisnis Global Sebut Indonesia Masih Impor Sapi Hidup
Ketersediaan Hewan Kurban Diprediksi Masih Suplus 469 Ribu Ekor



Belakangan, pembangunan infrastruktur telah menjadi program utama pemerintahan Presiden Joko Widodo, yang menghabiskan sekitar 359 miliar dolar AS selama masa jabatan pertamanya antara 2015-2019, dan berlanjut selama masa jabatan keduanya hingga 2024.

Pemerintahan Jokowi memiliki program Ekosistem Logistik Nasional (NLE) baru yang bertujuan untuk mengefektifkan arus barang dan dokumentasi dari pelabuhan ke gudang. Harapannya, program NLE dapat menekan biaya logistik hingga 17 persen dari PDB.

 

Video Terkait