DPR Ragukan Daging Kerbau India Bebas PMK, Ini Kata Bulog

Ilustrasi hewan ternak terinfeksi PMK. (Antara)

Editor: Tatang Adhiwidharta - Senin, 27 Juni 2022 | 17:50 WIB

Sariagri - Anggota Komisi IV DPR RI, Slamet mempertanyakan metode pemrosesan daging kerbau beku yang diimpor dari India oleh Bulog. Hal itu menyusul dugaan virus penyakit mulut dan kuku (PMK) yang terbawa oleh daging kerbau impor dari India.

Politikus Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu mempertanyakan, apakah daging kerbau yang didatangkan dari India telah melalui tahap pelayuan terlebih dahulu atau tidak pasca penyembelihan.

"Yang saya pahami begini, dalam menjaga kualitas daging biasanya begitu disembelih, daging langsung masuk proses blasting (pembekuan) tidak ada proses pelayuan," ujar Slamet saat Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi IV bersama Eselon 1 Kementan, Bulog, ID Food di Kompleks Parlemen, Jakarta, Senin (27/6/2022).

Di sisi lain, kata Slamet, virus PMK hanya akan mati jika melalui proses pelayuan. Sebab itu, Slamet meminta penjelasan Bulog untuk memastikan daging kerbau dari India telah melalui proses pelayuan sebelum dibekukan.

"Nah ini mohon dijawab, bagaimana memastikan kalau memang proses pelayuan di situ terjadi, dan setelah disembelih tidak langsung di blasting (dibekukan). Karena begitu daging disembelih tidak dilakukan blasting maka akan berpengaruh pada kualitas daging," ucap Slamet.

Pihak Bulog pun memberikan tanggapannya. Direktur Bisnis Bulog, Febby Novita menjelaskan bagaimana daging kerbau diproses di India sebelum dikirimkan ke Indonesia.

Dia mengatakan, dalam sidak langsungnya ke India beberapa hari lalu, setiap tahapan mulai dari kerbau di peternakan hingga diproses di rumah produksi daging kerbau beku terdapat dokter hewan yang memeriksa kesehatan kerbau.

"Kami mendatangi 4 plant (rumah produksi). Jadi di sana dari peternak masuk ke pengepul, dan lengkap sekali dokter hewannya bisa puluhan orang. Dari pengepul, kerbau dikirim ke supplier dan di sana juga ada dokter hewannya. Kemudian dari supplier itu kerbau masuk ke rumah produksi," jelas Febby.

Febby pun menjamin bahwa daging kerbau telah melalui proses pelayuan terlebih dahulu. Dia pun mengaku telah mengecek secara langsung kondisi pH daging kerbau saat pelayuan.


"Mereka melakukan pelayuan pada pH di bawah 6, kami cek secara acak itu di pH 5,4. Jadi kalau menurut data, pH di bawah 6 saat pelayuan itu virus akan mati," papar Febby.

Febby melanjutkan, setelah pelayuan maka daging kerbau akan diberi label dan masuk ke proses pembekuan. Pembekuan pertama, kata Febby, menggunakan suhu minus 40 derajat Celcius, dan pembekuan kedua di suhu minus 28 derajat Celcius sebelum proses pengiriman.

Febby menambahkan, dari hasil sidaknya ke rumah produksi daging kerbau beku di India, semua kerbau yang diproses terjamin sehat dan bebas dari penyakit PMK ataupun antraks.

Baca Juga: DPR Ragukan Daging Kerbau India Bebas PMK, Ini Kata Bulog
Tidak Hanya Sapi, Domba dan Kerbau Jadi Korban Serangan Wabah PMK



"Jadi memang kalau dari awal mereka sudah ketat dari proses pemotongan hewan, memastikan hewan itu  sehat, tidak ada PMK, antraks, dan kerbau tidak hamil. Ini saya benar-benar membawa tim termasuk tim dokumentasi dan lain-lain, jadi ini tidak ada pengaturan sama sekali, kami benar-benar random (acak) melakukannya," imbuh Febby.

Sebagai informasi, pelayuan adalah penanganan daging segar pasca penyembelihan dengan cara menyimpan (digantung) selama waktu dan suhu tertentu diatas titik beku daging yang secara relatif belum mengalami kerusakan oleh mikroorganisme.

 

Video Terkait