Kontroversi Joki Cilik Sumbawa, Nilai Budaya yang Dianggap 'Eksploitasi'

Keberadaan joki cilik di Sumbawa menjadi kontroversi. (Humas NTB)

Editor: Tatang Adhiwidharta - Minggu, 26 Juni 2022 | 19:00 WIB

Sariagri - Isu mengenai joki cilik di arena pacuan kuda masih menjadi kontroversi, hal ini dianggap bentuk eksploitasi yang dilakukan terhadap anak-anak oleh sebagian kalangan.

Seperti diketahui, keberadaan anak-anak menjadi joki cilik di NTB, khususnya Pulau Sumbawa membuat Gubernur NTB Zulkieflimansyah angkat bicara perihal ini. Menurutnya, ia tidak setuju dengan adanya joki cilik.

Bang Zul-sebutan Zulkieflimansyah- mengatakan, pacuan kuda tradisional, sudah melekat jokinya dilakukan oleh anak-anak. Pasalnya, kegiatan 'memacu kuca' itu sudah tradisi yang telah mengkultur di tengah masyarakat sejak dulu, lantas dibutuhkan proses untuk mengubahnya.

"Memperbaiki tradisi tidak bisa serta merta, tapi butuh proses," kata Bang Zul seperti dikutip dari laman resmi Pemprov NTB.

Pria asal Sumbawa itu juga menuturkan, sering melihat pacuan kuda diluar negeri. Sehingga ditegaskannya bahwa tidak setuju dengan adanya joki cilik, keberadaannya identik dengan pacuan kuda masyarakat Sumbawa, Dompu dan Bima.

Hal tersebut dikarenakan juga oleh ukuran dan jenis kuda di Pulau Sumbawa yang dilombakan oleh masyarakat, merupakan jenis dan ukuran kuda yang kecil, sehingga cocok untuk ditunggangi oleh anak-anak. Jika ditunggangi oleh joki dewasa maka kudanya tidak akan mampu berpacu.

Oleh sebab itu, berbagai upaya yang terus dilakukan oleh pemerintah, termasuk melalui Persatuan Olahraga Berkuda Seluruh Indonesia (PORDASI). Salah satunya memperketat aturan untuk jenis dan ukuran kuda. Dalam olahraga pacuan kuda, sudah memiliki kelas-kelas pacuan.

Kelas F untuk dewasa dengan ukuran kuda yang besar juga. Sehingga tambah Bang Zul, bahwa tradisi pacuan kuda di Pulau Sumbawa, tidak hanya berbicara adat dan budaya serta kearifan lokal masyarakat setempat, tapi ada banyak aspek didalamnya. Salahsatunya aspek sosial kemasyarakatan.

"Secara turun temurun, keluarga pemilik kuda ini terus menjaga silaturahmi para leluhurnya, baik di arena pacuan dan diluar kehidupan sehari-hari. Ini yang unik di tradisi pacuan kuda," ucap Bang Zul.

Meski demikian, sektor ekonomi masyarakat juga bergerak. Puluhan UMKM dan pedagang yang berjualan dan saling membutuhkan di arena pacuan kuda. Ini menjadi sektor penggerak ekonomi masyarakat selama beberapa hari pelaksanaan lomba tersebut.

Selain itu, industri pacuan kuda juga menjelaskan bahwa keberadaan joki cilik ini juga merugikan bagi anak-anak dari aspek pendidikannya. Terlebih saat musim pacuan kuda ini berlangsung Seminggu bahkan lebih, praktis banyak yang tidak masuk sekolah.

Baca Juga: Kontroversi Joki Cilik Sumbawa, Nilai Budaya yang Dianggap 'Eksploitasi'
Wabah PMK di Level Mengkhawatirkan, Usaha Daging Sapi Terancam Berhenti

Untuk itu, pemerintah daerah sudah mengaktifkan sekolah malam, untuk para joki cilik yang tertinggal pelajaran disekolahnya. Ada guru yang ditugaskan untuk mengajar selama perlombaan berlangsung.

"Sehingga para joki tidak tertinggal dalam hal pendidikan. Karena pendidikan penting untuk masa depan mereka,"jelasnya.

Untuk mengubah joki cilik dan pacuan kuda yang sudah mengakar di kehidupan masyarakat ini menjadi tantangan tersendiri.

"Kita sedang berbicara dengan para komunitas kita yang paling bawah. Menggunakan bahasa yang mudah dipahami, karena kalau bahasanya berlebihan tidak mungkin. Karena semakin dilarang akan tetap juga dilakukan. Jadi intinya memang butuh proses,"tutup Bang Zul.

Video Terkait