Sering Kecelakaan, Pengiriman Ternak dengan Kapal Laut Harus Dievaluasi

Ilustrasi peternakan sapi. (Pixabay)

Editor: Putri - Kamis, 23 Juni 2022 | 16:25 WIB

Sariagri - Lebih dari 15.000 domba tenggelam akhir pekan lalu ketika kapal Al Badri 1 terbalik di Pelabuhan Sudan dan tenggelam. Sekitar 800 hewan lainnya yang diselamatkan menunjukkan gejala sakit dan diperkirakan tidak akan hidup.

Al Badri 1 adalah kapal ro-ro (roll-on/roll-off) yang sudah tua. Gambar dari sebelum dan sesudah kejadian menunjukkan bahwa empat geladak tambahan dilas di atas geladak utama kapal untuk menambah kapasitas pengangkutan ternak.

Kasus ini adalah gambaran umum buruknya angkutan ternak hidup di seluruh dunia. Kapal pengangkut ternak umumnya lebih tua dari kapal dagang rata-rata, dengan armada melebihi usia 40 tahun. Hampir semuanya adalah kapal yang dikonversi, seringkali dari kapal ro-ro.

Kapal-kapal yang dipilih untuk dikonversi menjadi kapal pengangkut ternak biasanya telah mencapai usia normal untuk dibongkar atau dikandangkan, dengan usia rata-rata sekitar 30 tahun.

Harus Dievaluasi

Ketika kasus kapal Al Badri 1 terjadi, LSS Success, sebuah kapal ekspor ternak hidup lainnya tengah berlabuh di pelabuhan London Timur dan menuju Mauritius. Pada 2019, kapal ini dimasukkan dalam daftar penahanan oleh otoritas Eropa karena dianggap tidak layak untuk berlayar.

Tidak lama kemudian, LSS Success muncul di Afrika Selatan tanpa campur tangan otoritas setempat. Kapal yang berusia 52 tahun sesungguhnya telah melewati batas usia penggunaan kapal yang aman.

Tahun lalu, kapal tersebut bertanggung jawab atas kematian 40 ekor sapi di atas geladaknya selama perjalanan ekspor dari Afrika Selatan ke Mauritius. Menurut laporan insiden kapal, ternak mati akibat cedera kepala dan kaki atau mabuk laut karena kapal tidak stabil dalam cuaca buruk.

Setahun sebelumnya, kapal tersebut bermasalah karena sejumlah besar obat-obatan ditemukan di kapal oleh pejabat Mauritius setelah perjalanan dari Afrika Selatan.

Menurut National Society for the Protection of Animals (NSPCA), kapal LSS Success itu adalah "ember karat" dan tidak boleh melakukan perjalanan ekspor ternak hidup karena mempertaruhkan nyawa ribuan hewan, bahkan awak kapal.

Pada 2020, NSPCA berusaha untuk menghentikan rencana pengiriman 55.000 hingga 85.000 domba hidup dari Afrika Selatan ke Timur Tengah.

"Kondisi yang dialami hewan selama perjalanan laut jarak jauh bertentangan dengan banyak standar Undang-Undang Perlindungan Hewan Afrika Selatan 71, tahun 1962," kata Direktur Humane Society International-Africa Tony Gerrans, seperti dilansir Daily Maverick.

Ia menjelaskan, puluhan ribu hewan hidup harus bertahan selama 21 hari di atas kapal dan dikandangkan bersama tanpa makanan dan perawatan yang layak.

"Hewan itu berdiri di kotoran mereka sendiri, menghirup amonia yang dapat menyebabkan masalah pernapasan, terkena kebisingan terus-menerus dari mesin kapal dan tekanan panas yang bisa sangat ekstrem hingga membunuh hewan, seperti meninggalkan anjing di dalam mobil di hari yang panas," ujarnya.

Baca Juga: Sering Kecelakaan, Pengiriman Ternak dengan Kapal Laut Harus Dievaluasi
Aktivis di Inggris Desak Pemerintah Hentikan Ekspor Ternak Hidup



Pada 2016, sekitar 3.000 domba mati dalam perjalanan dari Fremantle ke Doha di atas kapal Al Messilah. "Setiap tahun, tanpa gagal, industri ekspor ternak hidup menyebabkan krisis demi krisis dengan mengorbankan nyawa ribuan hewan dan bahkan manusia," kata NSPCA.

Lembaga ini meminta kepada pendukung perdagangan ekspor hewan ternak hidup agar mengevaluasi kembali bisnisnya ketika ada alternatif lain, misalnya ekspor daging beku.

Menurut Direktur Program Hukum dan Kebijakan Hewan Harvard, Profesor Kristen Stilt, pengiriman atau ekspor hewan hidup adalah peninggalan dari masa lalu. Pengangkutan daging dingin dan beku adalah cara yang dilakukan hampir pada semua jenis daging dalam perdagangan saat ini.

Video Terkait