Aktivis di Inggris Desak Pemerintah Hentikan Ekspor Ternak Hidup

Ilustrasi Hewan Ternak. (Foto: Pixabay)

Editor: Putri - Rabu, 15 Juni 2022 | 19:40 WIB

Sariagri - Para juru kampanye Compassion in World Farming menyerukan agar Inggris menghentikan ekspor ternak hidup. Protes tersebut dikeluarkan setelah 15.000 domba dilaporkan mati tenggelam di Laut Merah minggu lalu.

Seperti dilaporkan sebelumnya, pada 11 Juni sekitar 15.000 domba tenggelam karena kapal ternak Al Badri 1 membawa ribuan domba dari Sudan ke Arab Saudi terbalik.

Kapal tenggelam di dekat pintu keluar pelabuhan saat meninggalkan pelabuhan Suakin di Sudan. Sebuah laporan menyatakan bahwa sekitar 700 dari 15.800 domba di dalamnya berhasil diselamatkan.

Menurut laporan Farminguk, setiap tahunnya di seluruh dunia, jutaan domba, sapi, dan babi dikirim dalam perjalanan ekspor untuk dipotong atau digemukkan melalui jalan darat, laut atau udara melintasi benua.

Compassion in World Farming, yang menyerukan diakhirinya ekspor semacam itu, mengatakan perdagangan itu 'tidak manusiawi' dan 'tidak perlu.'

Tanggal 14 Juni juga ditetapkan sebagai Hari Larangan Ekspor Langsung: Hari Kesadaran Internasional, di mana para pendukung dari berbagai organisasi serupa bersatu untuk melarang ekspor hidup langsung.

Dipilihnya tanggal tersebut dikarenakan kejadian serupa juga terjadi pada 14 Juni 201. Saat itu sebanyak 13.000 domba mati dalam perjalanan laut dari Rumania ke Somalia.

Selain itu, Compassion in World Farming mengatakan pemerintah Inggris harus menghormati janjinya untuk melarang ekspor hidup Inggris, yang dibuat pada Agustus 2021.

"Hewan harus disembelih sedekat mungkin di peternakan tempat mereka dibesarkan dan digemukkan di atau dekat peternakan tempat mereka dilahirkan," kata Kepala Penasihat Kebijakan Compassion in World Peter Stevenson.

Baca Juga: Aktivis di Inggris Desak Pemerintah Hentikan Ekspor Ternak Hidup
Intip 3 Manfaat Bulu Domba di Dunia Industri



“Compassion in World Farming menyerukan agar ekspor ini diakhiri... dan menulis kepada Organisasi Dunia untuk Kesehatan Hewan (OIE) yang pedomannya menetapkan bahwa 'jumlah waktu yang dihabiskan hewan dalam perjalanan harus dijaga agar tetap minimum.' Kami mendesak OIE untuk menekan semua negara anggota mereka untuk menghormati pedoman ini dan segera mengakhiri pengangkutan hewan hidup jarak jauh," tambahnya.

Di sisi lain, menurut Ruminant Health & Welfare (RH&W), yang anggotanya mewakili luasnya rantai pasokan pangan, larangan ekspor hidup akan memiliki konsekuensi yang besar. Hal tersebut mengharuskan pemerintah untuk membangun kapasitas rumah potong hewan regional.

Video Terkait