PMK Masih Merebak, RI Bakal Buka Keran Impor Daging Sapi?

Ilustrasi sapi. (pixabay)

Editor: Dera - Sabtu, 28 Mei 2022 | 11:30 WIB

Sariagri - Wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) kini semakin meluas di beberapa wilayah Indonesia, mulai dari Jawa Timur, Aceh, Nusa Tenggara Barat, hingga yang terbaru di wilayah Tangerang, Banten. 

Guna mencegah penyebaran PMK, karantina pertanian di berbagai daerah pun membatasi pengiriman sapi dari luar kota. Hal ini pun dikhawatirkan bisa menyebabkan kurangnya pasokan daging sapi, terlebih masyarakat muslim di Tanah Air akan merayakan Hari Raya Idul Adha, yang pastinya membutuhkan hewan kurban. 

Kepala Badan Pangan Nasional Arief Prasetyo Adi mengklaim sejauh ini stok daging sapi Jakarta, Banten, dan Bandung Raya tergolong aman, karena masih mengandalkan sapi lokal di wilayah Jabodetabek serta Bandung Raya.

Lebih lanjut Arief menuturkan, jika stok daging masih dinilai kurang maka pemerintah siap membuka keran impor daging sapi dari Australia, India dan Brasil. Pihaknya memastikan jika daging sapi impor dari Australia dijamin halal dan sehat karena pengawasannya cukup ketat. 

Pasokan impor sapi hidup dari Australia, sapi frozen dari Brasil, dan sapi kerbau frozen dari India diharapkan bisa memenuhi pasokan daging di Indonesia, terutama saat Idul Adha nanti. 

Seperti diketahui sebelumnya, PMK merupakan penyakit hewan menular akut yang menyerang hewan ternak seperti sapi, kerbau, kambing, domba, kuda dan babi dengan tingkat penularan mencapai 90-100 persen.

Baca Juga: PMK Masih Merebak, RI Bakal Buka Keran Impor Daging Sapi?
Wabah Penyakit Mulut dan Kuku Diduga Berasal dari Impor Daging dan Ternak

Diketahui, PMK memiliki 7 varian yang berbeda. PMK disebabkan oleh virus dengan genus Aphthovirus dari famili Picornaviridae. Gejala dari PMK dapat dikenali dengan adanya luka seperti sariawan di rongga mulut yaitu di gusi dan lidah, di sela-sela kuku kaki, dan bisa di ambing susu hewan betina.

Selain itu, hewan yang terinfeksi akan mengalami demam (suhu 39-41 derajat Celcius), keluar lendir berlebihan dari mulut, beberapa mengalami pincang, luka di kaki-kuku, sulit berdiri, gemetaran, nafas cepat, dan produksi susu menurun drastis. Akibatnya, kerugian ekonomi akibat wabah PMK pun sangat tinggi bahkan mempengaruhi pasokan daging di Tanah Air. 

Video Terkait