DPR: Penyakit Mulut dan Kuku di Indonesia Jadi Sejarah Kelam Masa Depan

Anggota Komisi IV DPR RI Andi Akmal Pasluddin. (dpr.go.id/Arief/Man)

Editor: Dera - Rabu, 25 Mei 2022 | 15:40 WIB

Sariagri - Anggota Komisi IV DPR RI dari Fraksi PKS, Andi Akmal Pasluddin, menyampaikan kepada pemerintah di beberapa forum dialog baik formal maupun informal, bahwa kejadian penyakit mulut dan kuku (PMK) pada hewan ternak yang mulai tersebar di berbagai wilayah Indonesia menjadi sejarah kelam di masa datang.

Pasalnya, PMK ini pernah terjadi di negara ini sekitar tahun 1887 dan berakhir total pada tahun 1986.

“Butuh waktu hampir 100 tahun untuk menjadikan Indonesia bebas PMK. Meski demikian teknologi masa lalu masih terbatas, sehingga membuat lamanya pemberantasan PMK, namun kejadian PMK di masa lalu menunjukkan betapa penyakit ini sangat berbahaya baik secara kesehatan maupun secara ekonomi”, tutur Akmal.

Legislator asal Sulawesi selatan II ini mengungkapkan, bahwa selama dirinya ada di komisi IV, selalu mengingatkan, bahwa importasi ternak maupun daging sapi harus berbasis country base, bukan zona base.

Menurut Akmal, banyak rekannya yang bersikap keras kepada pemerintah agar jangan sampai diberlakukan zonabase untuk memasukkan daging maupun hewan ternak dari luar negeri.

Pada kenyataannya, tambah Akmal, PP No.4 tahun 2004 yang legal diterapkan sejak 2016, dan ditambah lagi dengan adanya UU Cipta Kerja yang memayungi zonabase pada importasi daging, menjadikan negara ini dapat membiarkan para importir memasukkan daging dari negara yang belum bebas PMK seperti India. Diketahui tahun ini Bulog juga telah memasukkan daging kerbau puluhan ribu ton menjelang Ramadan kemarin.

“Kita tidak mengetahui bahwa proses daging beku yang masuk ke Indonesia bebas virus. Jenis PMK yang menulari ternak dalam negeri ini berupa RNA yang sangat menular dengan cepat. Jadi kejadian PMK masuk kembali ke Indonesia tahun 2022 setelah 1986 bebas, menjadi tragedi buruk karena hewan ternak yang telah terinfeksi dan dinyatakan sembuh, virus masih akan bersemayam di tubuh hewan itu hingga tiga tahun lamanya. Diyakini pengendalian ini akan sulit kecuali ada pemusnahan yang berbiaya sangat tinggi”, ungkap Akmal.

Politisi PKS ini menjelaskan, kejadian PMK menjelang Idul Adha ini memang sangat di sayangkan. Namun ia meminta kepada pemerintah, agar peternak yang hendak panen besar pada penjualan hewan ternaknya jangan sampai dipersulit proses distribusinya.

“Kebutuhan permintaan hewan kurban, akan sangat banyak dari pulau jawa. Sedangkan produksi sapi sangat dominan dari luar Jawa termasuk dari Nusa Tenggara atau Sulawesi. Saya berharap, tidak ada larangan di pelabuhan hewan ternak yang dari pulau Jawa masuk ke pulau Jawa”, tutur Akmal.

Baca Juga: DPR: Penyakit Mulut dan Kuku di Indonesia Jadi Sejarah Kelam Masa Depan
PKS: Merebaknya PMK Adalah Buntut Lemahnya Sistem Karantina Nasional

Selanjutnya putra kelahiran Bone ini meminta kepada pemerintah, agar prediksi naiknya harga hewan kurban akan membantu peternak dalam menikmati hasil upayanya dalam produksi ternaknya. Jangan sampai ada oknum yang menunggangi penjualan ternak, misal dengan menunggangi penjualan obat atau vaksin.

“Kita mempercayakan kepada pemerintah pada persoalan PMK ini. Namun menjadi catatan penting, era kepemimpinan negeri ini, terutama di bidang pangan, telah menjadi catatan sejarah kelam tahun 2022 PMK masuk kembali di Indonesia yang menyulitkan peternak khususnya, dan masyarakat Indonesia pada umumnya sebagai konsumen”, tutup Andi Akmal Pasluddin, seperti dilansir dari laman fraksipks.id. 

Video Terkait