Mengenal Wabah PMK di Indonesia dan Sejarah Penyebarannya

AKP Tukijan saat melihat kondisi ternaknya di Cirebon, Jawa Barat, Kamis (19/5/2022). (ANTARA)

Editor: Putri - Sabtu, 21 Mei 2022 | 17:30 WIB

Sariagri - Wabah Penyakit Kuku dan Mulut (PMK) saat ini kembali marak di Indonesia. PMK muncul pada akhir April 2022 kemudian terus meluas di Jawa Timur dan Aceh.

PMK atau Foot and Mouth Disease (FMD) adalah penyakit hewan yang menular yang disebabkan oleh paparan virus melalui udara. Aphthovirus dari keluarga Picornaviridae diketahui sebagai organisme penyebab PMK. Terdapat tujuh strain yang endemik di berbagai negara, antara lain A, O, C, SAT1, SAT2, SAT3, dan Asia1.

Hewan yang rentan terjangkit penyakit mulut dan kuku adalah sapi, kerbau, kambing, domba, dan ruminansia lainnya. Hewan ternak yang terjangkit PMK memiliki ciri-ciri lepuh di hidung, lidah, bibir, rongga mulut, kuku hingga puting.

Selain itu, hewan yang terjangkit virus PMK juga mengalami demam hingga 41 derajat Celsius, mengeluarkan air liur berlebihan, sulit berdiri, penurunan nafsu makan dan berat badan, hingga penurunan produksi susu dan hambatan pertumbuhan.

Indonesia mendeklarasikan bebas PMK pada 1986. PMK pertama kali muncul di Indonesia pada 1887, tepatnya di Jawa Timur. Setelah itu diikuti oleh wabah di Pulau Madura pada 1906 dan 1913.

Mengutip jurnal A history of FMD research and control programmes in Southeast Asia: lessons from the past informing the future, PMK menjadi endemik di Jawa Timur kemudian menyebar ke seluruh Jawa dan daerah-daerah lain di Indonesia termasuk Sumatera pada 1892, Kalimantan (1906), Sulawesi (1902), Nusa Tinggara Barat (1911) dan Bali (1962).

Menurut World Reference Laboratory for FMD pada 1973, diidentifikasi bahwa strain yang menyebar di Indonesia adalah serotipe O. Pada 1974, program pemberantasan PMK dilaksanakan yang didukung oleh Australian International Development Assistance Bureau (AIDAB).

Saat itu untuk mencapai keberhasilan pemberantasan PMK, pemerintah Indonesia membagi daerah menjadi tiga zona PMK; zona bebas penyakit (Nusa Tenggara Timur dan Barat, Irian Jaya (sekarang Nugini Barat atau Papua), Maluku, Timor Timur (sekarang Timor Leste)); zona suspect (Kalimantan, Sumatera, Sulawesi); dan zona terinfeksi (Jawa, Bali, Sulawesi Selatan).

Pergerakan hewan yang ketat dan karantina dilakukan untuk melindungi zona bebas penyakit dan pengawasan rutin dilakukan di zona suspect. Di zona yang terinfeksi, program vaksinasi massal dilakukan.

Vaksinasi massal dilakukan untuk mencegah munculnya kembali penyakit di daerah yang terinfeksi. Metode vaksin dilakukan ​​secara bertahap tetapi intensif.

Cakupan vaksinasi diperkirakan melibatkan setidaknya 80 persen populasi ternak. Hewan yang divaksinasi diidentifikasi dengan tanda telinga dan ada kontrol ketat terhadap kendaraan ternak untuk meminimalkan pergerakan hewan ke area vaksinasi.

Surveilans epidemiologis intensif dilakukan secara terus menerus selama program untuk memantau kemungkinan munculnya kembali kasus, dan setelah 3 tahun, banyak daerah dinyatakan bebas PMK.

Baca Juga: Mengenal Wabah PMK di Indonesia dan Sejarah Penyebarannya
Ciri-ciri Hewan Ternak Terjangkit PMK, Peternak Wajib Tahu!

Kasus terakhir PMK terjadi pada Desember 1983. Sementara vaksinasi terakhir dilakukan di pada 1985 yang mengarah pada deklarasi Indonesia bebas PMK pada 1986 melalui Surat Keputusan Menteri Pertanian No.260/1986 dan diakui oleh OIE pada 1990 dengan Resolusi no XI.

Sayangnya, PMK kembali muncul setelah 36 tahun pada akhir April 2022. Beberapa daerah di Indonesia seperti Jawa Timur, Jawa Tengah bahkan Aceh mengalami wabah PMK.

Video Terkait