Emisi Amonia dI Peternakan Unggas Sangat Berbahaya, Ini Cara mengatasinya

Ilustrasi - Peternakan unggas. (Pixabay)

Editor: Tatang Adhiwidharta - Kamis, 19 Mei 2022 | 16:05 WIB

Sariagri - Peternakan ayam menghasilkan limbah kotoran dalam jumlah yang cukup besar. Jika tidak dikelola dengan benar, limbah kotoran yang menghasilkan gas amonia ini akan membahayakan kesehatan ayam dan pekerja peternakan.

Amonia adalah komponen urea yang diekskresikan dalam kotoran unggas. Ketika kotoran itu terkena udara dan kelembaban maka gas amonia akan dilepaskan. Pertanian adalah sumber utama amonia, yang menyumbang 87% dari emisi Inggris pada 2019, dimana 14% diantaranya berasal dari produksi unggas.

"Gas amonia adalah gas berbahaya bagi unggas dan pekerja unggas dan deposisi nitrogen berlebihan yang dihasilkan dari emisi amonia juga merusak lingkungan," jelas Jason Gittins, Direktur Teknis Peternakan di ADAS, seperti dikutip dari farminguk.com.

Gittins memimpin proyek studi tentang strategi untuk mengurangi emisi amonia di sektor unggas. Salah satu cara yang efektif adalah membuat sistem ventilasi kandang yang baik. Gittins mengatakan, kandang yang berventilasi buruk akan menyebabkan limbah kotoran yang basah, yang memungkinkan lebih banyak amonia dilepaskan ke udara.

Penggunaan ventilasi yang efektif untuk mengoptimalkan lingkungan di dalam kandang dan mencegah kondensasi, dapat meningkatkan kandungan bahan kering serasah dan dengan demikian mengurangi emisi amonia.

Peternak juga bisa menggunakan sistem penghangat tidak langsung untuk mengurangi kelembaban kandang, tanpa tambahan karbon dioksida dan uap air. "Dengan demikian, kondisi serasah seringkali lebih kering sehingga kurang mendukung untuk produksi amoniak," jelas Gittins.

Sistem ini biasanya bekerja dengan cara menyedot udara buangan dari kandang melalui cairan tertentu untuk menangkap amonia, sehingga udara yang dilepaskan ke atmosfer memiliki kandungan amonia yang lebih rendah.

Cara kedua adalah menggunakan sistem scrubbing yang mampu mengurangi emisi amonia hingga 80%, tetapi modal untuk membeli alat ini dan biaya operasinya sangat tinggi.

Cara lain adalah pemanfaatan pakan dan rasio konversi pakan (FCR) yang baik. Gittins menyarankan, pakan harus diformulasikan berdasarkan kebutuhan asam amino, bukan protein kasar. Formulasi pakan harus berubah sepanjang siklus ternak untuk memastikan bahwa pasokan nutrisi sangat cocok dengan asam amonia unggas dan kebutuhan nutrisi lainnya.

Penyimpanan limbah kotoran

Hal penting lain untuk mengurangi emisi amonia adalah cara penyimpanan limbah kotoran ayam. Kotoran harus disimpan di gudang tertutup pada permukaan yang kedap air. Jika ditumpuk di lapangan terbuka, luas permukaan harus sekecil mungkin dan sebaiknya berbentuk 'A', karena ini akan mengurangi emisi.

"Masalah utama adalah bahwa kotoran unggas dan serasah yang basah dapat menyebabkan emisi amonia yang lebih tinggi sehingga prioritasnya adalah menjaganya sekering mungkin, baik selama dikandang maupun setelahnya," jelas Gittins.

Tempat minum unggas juga harus dikelola sedemikian rupa agar tidak mudah tumpah dan membasahi serasah, kebocoran apa pun perlu diidentifikasi dan diselesaikan dengan cepat.

Baca Juga: Emisi Amonia dI Peternakan Unggas Sangat Berbahaya, Ini Cara mengatasinya
Peralihan ke Energi Terbarukan Ringankan Beban Lingkungan Eropa



Menjaga status kesehatan unggas juga akan membantu menjaga serasah dalam kondisi yang lebih kering. "Unggas yang terkena penyakit dan dalam kondisi kesehatan yang buruk seringkali menghasilkan kotoran yang lebih basah, yang dapat menghasilkan emisi amonia yang lebih tinggi," pungkasnya

 

Video Terkait