Perang Ukraina Picu Kekurangan Unggas di Negara Ini

Ilustrasi - Peternakan unggas. (Pixabay)

Editor: Arif Sodhiq - Rabu, 11 Mei 2022 | 14:00 WIB

Sariagri - Invasi Rusia ke Ukraina menyebabkan kenaikan harga di pasar unggas Estonia. Pelaku pasar mengatakan semua impor unggas dari Ukraina, Belarusia dan Rusia dihentikan. Selain itu, kekhawatiran membayangi kenaikan tajam harga bahan pakan karena terhambatnya ekspor gandum Ukraina melalui laut.

Hampir 60% dari permintaan daging unggas Estonia dipenuhi Talleg, produsen terbesar negara itu. Peternakan unggas kecil menyumbang beberapa persentase tambahan, tetapi sisanya diimpor dari Latvia, Lituania dan Polandia.

Direktur Komersial HKScan, pemilik merek dagang Tallegg seperti dilansir dari Poultry World, Markus Kirsberg mengatakan produksi daging broiler di Estonia tidak terlalu terhalang perang Ukraina. Namun kenaikan biaya produksi biji-bijian pakan telah mendorong kenaikan harga 15%. 

“Volume produksi kami stabil. Mengenai ketersediaan barang pesaing, tentu saja peristiwa di Ukraina berdampak negatif. Hari ini, kita jelas melihat kenaikan harga di pasar bahan baku. Pertama, ini berdampak pada daging ayam. Setelah panen musim gugur, gelombang kenaikan harga (daging broiler) tidak dapat dihindari jika harga biji-bijian terus naik,” ujar Kirsberg.

“Kita berbicara tentang rasio permintaan dan konsumsi. Jika suatu produk hilang, harga naik,” tambahnya.

Tidak ada rencana ekspor

Perang Ukraina telah menghentikan pasokan daging unggas dari Ukraina, Belarusia, dan Rusia tidak hanya ke kawasan Baltik tetapi juga ke Jerman. Kirsberg mengatakan Tallegg mengekspor beberapa produk ke Latvia. Meski harga ekspor di negara-negara Barat tampak menarik, perusahaan tidak berniat mengisi rak kosong di Eropa.

“Tentu kami punya tanggung jawab terhadap pasar domestik. Atas nama keuntungan jangka pendek, kami tidak akan mengubah rencana jangka panjang,” katanya.

Produk murah menghilang

Kepala Serikat Industri Makanan Estonia, Sirje Potisepp  memperingatkan Estonia tidak dapat memproduksi daging ayam dan telur dalam jumlah yang dibutuhkan. Menurut Potisepp, bagian lain dari masalah ini terkait fakta bahwa negara-negara yang berperang biasa mengekspor produk murah ke pasar Eropa.

Baca Juga: Perang Ukraina Picu Kekurangan Unggas di Negara Ini
Usai Lebaran, Pembeli di Pasar Koja Baru Sepi, Pedagang Mengeluh



“Produk dengan harga lebih rendah datang dari Ukraina dan Rusia. Ada biaya produksi yang lebih rendah, upah yang lebih rendah, dan ketersediaan bahan baku yang lebih tinggi,” kata Potisepp.

Dia menambahkan pihaknya memahami arus perdagangan yang dipertahankan selama beberapa dekade bahkan bisa lumpuh dalam sehari. Harga semua komoditas naik karena perang.

 

Video Terkait