Larva Black Soldier Fly, Solusi Penanganan Sampah hingga Hasilkan Cuan

Larva BSF Yang diternak warga sedang mengurai sampah (Sariagri/ Pena Zun)

Editor: Tatang Adhiwidharta - Selasa, 19 April 2022 | 16:10 WIB

Sariagri - Salah satu metode pengolahan sampah organik, seperti sampah dapur, yaitu biokonversi dengan menggunakan metode BSF (Black Soldier Fly). Lantas produk yang dihasilkan antara lain maggot dan kompos.

BSF dapat bernilai ekonomi tinggi karena dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak dan kegunaan lainnya. Prof Dewi Apri Astuti, Guru Besar IPB University dari Fakultas Peternakan mengatakan maggot BSF memiliki keunggulan sebagai pakan ternak.

Bahkan Eropa telah memanfaatkan larva sebagai salah satu pakan ternak berkelanjutan demi menunjang kebutuhan pangan. Apalagi kebutuhan akan protein hewani meningkat seiring dengan meningkatnya angka pertumbuhan populasi.

Menurutnya, kehadiran pakan berkontribusi signifikan untuk menghasilkan produksi ternak yang optimum. Dikarenakan biaya pemberian pakan yang cukup tinggi, dunia peternakan mencari alternatif pakan yang efisien, salah satunya BSF. Solusi ini dapat mengatasi tingginya angka impor tepung ikan yang menyebabkan defisit negara.

Adapun keunggulan larva BSF menurut Prof Dewi yakni sebagai pakan ternak yang mengandung nutrien berkualitas, mudah dipelihara, murah dan memberi solusi dalam masalah lingkungan.
“Kehadiran BSF sebagai pakan ternak ini memiliki potensi untuk mengolah limbah menjadi rupiah,” kata Prof Dewi seperti dikutip dari laman resmi IPB, Selasa (19/4/2022).

Menurutnya, sampah organik dapat digunakan sebagai media pertumbuhan larva. Produknya dapat dikomersialisasikan dalam larva segar, larva kering, tepung maggot dan sisa limbah seperti kitin dan kitosan. Sisa limbah ini dapat dipergunakan di bidang kosmetik dan makanan.

“Media sangat mempengaruhi bagaimana kualitas larva. Bagusnya limbah-limbah dapur atau pasar dikombinasikan dengan sumber-sumber protein yang lebih tinggi,” sebutnya.

Prof Dewi menambahkan, media sampah organik sekitar 800 kg dapat menghasilkan 300 kilogram larva. Harga media dan biaya operasionalnya berbeda-beda tergantung lokasi. Namun kombinasi dengan bungkil sawit dinilai lebih baik karena dapat menghasilkan larva berprotein tinggi.

“BSF sudah merambah ke industri yang menjanjikan. Pembudidaya pemula maggot dapat memulainya dengan cukup mengumpulkan (larva) untuk pakan ikan dan unggasnya,” tambahnya.

Selain itu, IPB University juga memiliki rumah BSF dan produksinya sudah kontinyu. Di rumah BSF, ia mengombinasikan limbah ternak yang biasanya berkadar nitrogen tinggi dengan limbah sayuran/hijauan atau cacahan sisa pakan ternak. Rasio ini dapat menghasilkan komposisi larva yang berkualitas baik.

Baca Juga: Larva Black Soldier Fly, Solusi Penanganan Sampah hingga Hasilkan Cuan
Kala Takmir Masjid Gorontalo Diajari Buat Pakan Ternak dari Sorgum

“Nutrisi larva BSF sebagai pakan ternak sudah terbukti nyata memiliki keunggulan. Pemberian pada unggas tidak memberikan perbedaan yang nyata dalam hal konsumsi. Bahkan, dapat menekan biaya produksi serta menghasilkan berat telur lebih tinggi serta rendah kolesterol dan tingkat imunitas yang baik,” ujarnya.

Selain itu, larva BSF, dapat diolah sebagai susu pengganti anak ternak dan menjadi produk pakan tinggi energi bagi ruminansia. Produk samping kitosannya juga dapat dimanfaatkan untuk mengatasi pertumbuhan bakteri metanogen pada limbah ternak yang berpengaruh buruk pada kualitas lingkungan.

Video Terkait