Status Bebas ASF, Permintaan Daging Babi Sulut Meningkat Pesat

Pasokan daging babi asal Sulawesi Utara. (Barantan)

Editor: M Kautsar - Kamis, 10 Maret 2022 | 14:50 WIB

Sariagri - African Swine Flu (ASF) atau yang dikenal dengan demam Afrika pada hewan babi, sudah memasuki tahun kedua terjadi dibeberapa wilayah di tanah air. Salah satu daerah yang memegang status bebas ASF adalah Sulawesi Utara (Sulut).

Karena status bebas tersebut, permintaan daging babi Sulut meningkat pesat. Berdasarkan data pada sistem perkarantinaan, IQFAST, Karantina Pertanian Manado menunjukan pengiriman komoditas ini ke berbagai provinsi, termasuk hotel, restoran dan pabrik olahan yang menyajikan menu untuk kelompok masyarakat khusus di ibukota, DKI Jakarta.

Sebanyak 104 ton daging babi telah dilalulintaskan sejak awal tahun 2022, atau meningkat tiga kali lipat dibandingkan periode sama tahun lalu yang hanya 34 ton saja.

"Dari data kami, DKI Jakarta masih menjadi tujuan utama untuk daging babi asal Sulut," ujar Kepala Karantina Pertanian Manado, Donni Muksydayan Saragih, Kamis (10/03/2022).

Donni menjelaskan bahwa dengan status masih bebas ASF di wilayah kerjanya memberi dampak yang signifikan terhadap peningkatan lalu lintas terhadap komoditas ini.

"Selain melakukan pengetatan pengawasan, bersama dengan dinas terkait kamipun gencar lakukan sosialisasi pencegahan ASF, apalagi ternak babi merupakan salah satu komoditas peternakan unggulan di Sulut," jelasnya.

Ketua Asosiasi Peternak Babi Sulut, Gilbert Wantalangi menyebutkan pihaknya berharap bantuan semua pihak termasuk masyarakat untuk dapat mempertahankan status bebas ASF di Sulut, agar ia dan para peternak dapat berkontribusi terhadap pemulihan ekonomi di masa pandemi.

Sementara itu, Kepala Badan Karantina Pertanian (Barantan), Bambang menyebutkan wabah ASF dibeberapa wilayah telah dilakukan penanggulanggannya bersama dengan instansi terkait.

Baca Juga: Status Bebas ASF, Permintaan Daging Babi Sulut Meningkat Pesat
Ada Lebih dari Satu Strain Virus Penyebab Demam Babi Afrika, Peternak Harus Tetap Waspada

pihaknya telah menerapkan sistem pencegahan masuknya ASF dari wilayah wabah melalui Mitigasi Risiko Virus ASF, Classical Swine Fever (CSF) dan Swine Flu (Influenza A). Di mana setiap unit pelaksana teknis (UPT) di lingkup Barantan wajib melakukan monitoring Influenza A pada babi yang dilalulintaskan di seluruh Indonesia.

"Kedepan, kita perkuat sinergi para pelaku usaha, peternak maupun pemerintah dalam upaya pencegahan masuknya ASF terutama di pintu-pintu pemasukan seperti pelabuhan dan bandara," pungkasnya.

Video terkini:

Video Terkait