Lewat Peternakan Terpadu, Kudus Diharapkan Mampu Topang Kebutuhan Daging dan Ikan

Mendes PDTT Abdul Halim Iskandar.(Dok.Kemendes)

Editor: Arif Sodhiq - Senin, 14 Februari 2022 | 12:40 WIB

Sariagri - Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Mendes PDTT), Abdul Halim Iskandar meresmikan Badan Usaha Milik Desa Bersama (BUMDes Bersama) Rukun Lestari di Kecamatan Gebog, Kudus, Jawa Tengah. BUMDes Bersama itu khusus untuk megembangkan agribisnis berbasis peternakan sapi dan kambing.

Abdul Halim berharap BUMDes Bersama Rukun Lestari sebagai salah satu pilot project Program Desa Peternakan Terpadu Berkelanjutan mampu menopang kebutuhan daging dan ikan di kawasan Kudus dan sekitarnya. Dengan pengelolaan profesional dan komprehensif, menurut Abdul Halim, nantinya keberhasilan BUMDes Bersama Rukun Lestari akan direplikasi ke desa lainnya.

"Saya ingin BUMDes Bersama Rukun Lestari jadi inspirasi bagi desa-desa yang lain untuk ikut mendirikan Badan Usaha yang sama. Ini merupakan tindak lanjut arahan Presiden Joko Widodo agar Dana Desa bisa dimanfaatkan Ketahanan Pangan Hewani untuk menopang kebutuhan yang semakin meningkat," kata Abdul Halim, Minggu (13/2/2022).

Abdul Halim Optimistis, melihat potensi perikanan dan peternakan yang dimiliki Kudus, BUMDes Bersama Rukun Lestari dapat menjadi tumpuan ketersediaan pangan hewani di kawasan Jawa Tengah dan sekitarnya.

"Saya optimistis dengan potensi Kudus. Program Desa Peternakan Terpadu Berkelanjutan dibentuk untuk kesejahteraan masyarakat desa itu sendiri, minimal dapat menurunkan kebutuhan impor, artinya kebutuhan daging dan ikan bisa terpenuhi dengan harga yang relatif terjangkau," kata Abdul Halim.

Dia menjelaskan, Desa Peternakan Terpadu Berkelanjutan merupakan konsep peternakan komunal yang dikelola BUMDes Bersama. Bentuknya penggabungan beberapa komoditi unit usaha peternakan pada satu pasar di suatu daerah. Arahnya desa-desa yang berpotensi di sektor peternakan akan dikembangkan sebagai sentral-sentral penyedia daging baik dari sapi, kambing, hingga ayam hingga pusat hortikultura.

Selain itu, lanjut Abdul Halim, BUMDesa saat ini menjadi penting karena ada dua regulasi yang memayunginya yaitu Undang-undang Nomor 6 Tahun 3014 tentang Desa dan Undang-undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja.
 
"Ada juga BUM Desa yang sifatnya konsolidatif, tidak produktif tapi mengkonsolidasi UMKM yang ada di desa. Saat ini dengan payung hukum yang jelas, BUMDes dan BUMDesma kini miliki legal standing yang kuat," kata Abdul Halim.

Sementara itu, Bupati Kudus HM Hartopo berharap BUMDesa Bersama ini bisa memenuhi target penggemukan lebih dari 15 kilogram setiap bulannya.
 
"BUMDesa Bersama ini diharapkan bisa jadi inspirasi bagi kecamatan lainnya dengan catatan bisa membuktikan kinerja," kata Hartopo.

Baca Juga: Lewat Peternakan Terpadu, Kudus Diharapkan Mampu Topang Kebutuhan Daging dan Ikan
Miris! Akibat Kekeringan Parah, 13 Juta Orang Terancam Kelaparan dan Ribuan Ternak Mati



Untuk diketahui, pilot project Program Desa Peternakan Terpadu Berkelanjutan dimulai di tujuh BUMDesa Bersama tersebut terletak di tujuh kabupaten yaitu Bandung, Cirebon, Kebumen, Nganjuk, Jombang, Lumajang, dan Kudus.

Setiap BUMDes Bersama melibatkan sekitar 5-10 desa di sekitarnya. Ketujuh BUMDes Bersama yang menjadi proyek percontohan telah mendapatkan pelatihan dan pendampingan dari Kemendesa PDTT dan pihak ketiga.
 
BUMDesa Bersama Rukun Lestari sebagai salah satu Pilot Project Program Desa Peternakan Terpadu Berkelanjutan didirikan oleh 10 desa di Kecamatan Gebog dengan modal awal Rp500 juta. BUM Desa Bersama yang diketuai Nor Afnan ini bergerak di bidang pembibitan dan penggemukan sapi, peternakan kambing dan domba, ayam petelur, biogas serta pupuk organik.

Video:

Video Terkait