Dilirik Dunia, Peternakan Serangga Bisa Jadi Peluang Cuan Masa Depan

Ilustrasi kecoak. (Foto: Pixabay)

Editor: Dera - Selasa, 8 Februari 2022 | 10:30 WIB

Sariagri - Bagi sebagian orang, kecoak mungkin terlihat sebagai makhluk yang kotor, jelek dan jahat, yang memindahkan kuman dari satu sumber ke sumber lain. Namun jangan salah Sobat Agri, hewan menjijikan tersebut justru mempunyai nilai ekonomi tinggi.

Menurut Bank Dunia, peternakan serangga bisa menjadi jawaban atas kelaparan, kemiskinan dan krisis ekologi di benua. Selain manfaat ekonomi, peternakan serangga dikatakan memiliki nilai gizi yang tinggi karena mengatasi kekurangan gizi yang mempengaruhi satu dari lima orang di Afrika.

Konsumsi serangga memiliki sejarah panjang di Afrika, tetapi peternakan serangga jauh lebih baru. Melansir African News, Afrika mengonsumsi sekitar 25% dari 2.100 spesies serangga yang diakui dapat dimakan di seluruh dunia.

Di antara ribuan spesies serangga yang dapat dimakan, sekitar 18 telah diidentifikasi cocok untuk peternakan dan produksi yang ditingkatkan untuk pakan ternak atau konsumsi langsung oleh manusia. Salah satu serangga tersebut adalah kecoak.

Tren dalam jenis peternakan ini secara bertahap meningkat di seluruh Afrika. Laporan yang dikutip secara online menunjukkan bahwa orang telah memakan serangga dan tanaman hidroponik selama ratusan tahun. Tapi beternak adalah hal baru.

Di Tanzania, Daniel Rwehura adalah pelopor dalam penangkaran kecoak. Serangga berkaki enam adalah emas di mata pemuda itu. Dia menjual setiap kilo seharga 5 Euro atau Rp80.000 lebih.

Menurutnya, beternak jenis ini sangat murah dan bisa dilakukan di mana saja. Pasar utamanya adalah peternak unggas dan ikan, tetapi terkadang juga mendapatkan individu yang membeli untuk konsumsi.

Baginya, pasar peternakan serangga semakin luas karena lembaga penelitian membeli untuk penelitian mereka. Menurut Bank Dunia, peternakan serangga dapat menghasilkan makanan yang cukup untuk memenuhi 14% dari protein kasar yang dibutuhkan dalam memelihara semua babi, kambing, ikan dan unggas di Afrika.

Bisnis ini tampaknya tumbuh cukup populer di Tanzania dengan petani lain Lusius Kawogo yang mengaku telah menghasilkan banyak uang dari peternakan tersebut. 

Kedua petani itu mengatakan bahwa kecoak tidak membutuhkan makanan selain sisa makanan di fasilitas pembuangan limbah setempat sehingga memudahkan untuk bertani.

Baca Juga: Dilirik Dunia, Peternakan Serangga Bisa Jadi Peluang Cuan Masa Depan
Duh! Pria Ini Syok Berat Saat Dokter Temukan Kecoak Hidup di Dalam Telinganya

Perkiraan menunjukkan bahwa pasar serangga sebagai makanan dan pakan ternak akan bernilai hingga US$8 miliar atau Rp115 triliun pada tahun 2030, tingkat pertumbuhan tahunan majemuk (CAGR) sebesar 24% selama dekade ini.

Sebuah penelitian terhadap petani ikan Uganda menunjukkan bahwa lebih dari 90% bersedia menggunakan serangga untuk pakan, tetapi kurang dari setengahnya pernah melakukannya. Di Afrika, lembaga pertanian serangga dan kerangka peraturan masih dalam tahap awal. 

Video Terkait