Atasi Demam Babi Afrika, Negara Ini Akan Konsultasi dengan Cina

Ilustrasi babi. (pixabay)

Editor: Dera - Sabtu, 29 Januari 2022 | 10:00 WIB

Sariagri - Demam Babi Afrika atau African Swine Fever (ASF) merupakan penyakit pada babi yang sangat menular dan dapat menyebabkan kematian pada babi hingga 100 persen. 

Kantor berita Bangkok Post melaporkan bahwa Departemen Pengembangan Peternakan Thailand akan berkonsultasi dengan pihak berwenang Cina dan Vietnam tentang cara mengatasi Demam Babi Afrika (African swine fever/ASF).

Menteri Pertanian dan Koperasi Thailand, Chalermchai Sri-on, mengatakan bahwa konsultasi itu akan dilakukan melalui diskusi jarak jauh pada 3 Februari mendatang.

Menurut Chalermchai, Thailand akan belajar dari pengalaman Cina dan Vietnam dalam menangani wabah yang berpotensi menyebabkan kerusakan luas pada peternakan babi dan menghancurkan industri daging babi nasional.

Chalermchai menyebut diskusi itu akan membantu kementeriannya untuk menyesuaikan solusi atas masalah Demam Babi Afrika di Thailand. Setelah itu, anggaran akan diajukan ke pemerintah untuk memberi kompensasi kepada petani yang usahanya rusak akibat wabah tersebut.

Dalam sebuah survei yang dilakukan Kementerian Pertanian pada 10-25 Januari kemarin, diketahui bahwa Demam Babi Afrika telah tersebar di beberapa wilayah di 13 provinsi, yaitu Nakhon Pathom (di rumah potong hewan), Bangkok, Suphan Buri, Phangnga, Nakhon Si Thammarat, Chumphon, Maha Sarakham, Mae Hong Son, Si Sa Ket, Khon Kaen, Prachuap Khiri Khan, Buri Ram, dan Nong Bua Lam Phu.

Chalermchai mengklarifikasi bahwa area dalam radius 5 kilometer dari lokasi yang terkena dampak dinyatakan sebagai prevalensi Demam Babi Afrika.

Baca Juga: Atasi Demam Babi Afrika, Negara Ini Akan Konsultasi dengan Cina
Cegah Meluasnya Demam Babi, Italia Larang Aktivitas Perburuan

Departemen Pengembangan Peternakan Thailand telah mengajukan anggaran darurat sebesar 2,9 miliar baht (sekitar Rp1,25 triliun) dari dana pusat untuk dicairkan sebagai kompensasi kepada peternak babi yang terdampak wabah tersebut.

Dana itu dialokasikan untuk membantu para petani membangun kembali usaha mereka. Selain itu, Bank Pertanian dan Koperasi Pertanian telah mencadangkan 45 miliar baht (sekitar Rp19,4 triliun) untuk dipinjamkan kepada peternak babi guna melakukan rehabilitasi bisnis. Anggaran itu juga akan digunakan untuk membiayai langkah-langkah pencegahan. 

Video Terkait