Spotted Lanternfly, Si Cantik yang Jadi Musuh Petani Anggur

Ilustrasi Spotted_Lanternfly. (Istimewa)

Editor: Dera - Rabu, 26 Januari 2022 | 16:10 WIB

Sariagri - Spotted Lanternfly (SLF) secara harfiah diartikan sebagai lalat lentera tutul atau lalat lentera. SLF dikabarkan telah terlihat di negara bagian New York, Amerika Serikat pada pertengahan Desember lalu. Hal itu menimbulkan kekhawatiran para petani anggur yang tersebar di lima wilayah di negara bagian itu.

SLF pertama kali terdeteksi di Amerika Serikat pada musim gugur 2014 di Pennsylvania timur.

Seperti dilaporkan Growing Product, SLF (Lycorma delicatula) adalah hama berbintik hitam, merah, dan putih sepanjang satu inci. Meski penampilannya tampak 'meriah', SLF merupakan musuh bagi para petani anggur, apel, ceri, persik, pinus, dan spesies pohon serta semak lainnya.

Hama invasif ini berasal dari Cina dan terbilang rakus karena mempunyai nafsu makan yang sangat besar.

SLF memiliki tahapan kehidupan yang berbeda menurut ahli entomologi. SLF betina bertelur dalam kelompok 30 hingga 50 telur mulai akhir Agustus atau September, hingga suhu beku.

Massa telur mempunyai lapisan abu-abu seperti lumpur lilin dan telur yang menetas tampak seperti endapan berbentuk biji kecokelatan dalam empat sampai tujuh kolom. Panjangnya sekitar 1 inci hingga 1,5 inci dan lebar hingga ¾ inci.

Massa telur sering terlihat pada permukaan datar seperti kendaraan, peti, palet, wadah dan batang pohon. Mereka bisa melewati musim dingin. Telur-telur itu harus dikikis dari permukaan lalu dihancurkan.

Telur diyakini mulai menetas pada pertengahan hingga akhir bulan Mei. Hama ini hanya menghasilkan satu generasi. 'Tuan rumah' yang disukai adalah Ailanthus altissima yang dijuluki pohon surga, yaitu jenis pohon invasif dari Cina.

Para petani dituntut untuk jeli mencari massa telur di kebun anggur, apel, dan kebun persik agar hama ini tidak menyerang panen mereka.

Untuk melindungi tanaman dari serbuan SLF ini, ketentuan tentang penghancuran telur dan insektisida sudah tersedia. Salah satunya yang dipublikasikan Cornell CALS (College of Agriculture and Life Science). Negara bagian New York juga menyediakan pembasmian hama tersebut.

Menurut Cornell.edu, SLF bukan lalat, melainkan wereng besar. Hama dewasa panjangnya satu inci. SLF tidak menggigit atau menyengat, bukan ancaman bagi manusia, hewan peliharaan, atau ternak. Bagi sebagian besar warga New York, SLF tak lebih dari hama pengganggu.

Baca Juga: Spotted Lanternfly, Si Cantik yang Jadi Musuh Petani Anggur
Polusi Rusak Kemampuan Serangga Penyerbuk Mencari Makanan

Nimfa dan SLF dewasa memiliki mulut menusuk dan menghisap yang bisa mengebor floem (jaringan pembuluh) tanaman. Kotoran SLF berupa cairan kental yang disebut honeydew, membuat benda lengket dan menjadi empat berkembang biak jamur jelaga-jamur hitam yang mengganggu.

Untuk saat ini, penyebaran SLF sebagian besar terbatas di Atlantik Tengah. Namun diketahui habitat hama ini sangat luas di wilayah Amerika Serikat. Menurut data USDA, Midwest, California, dan Pasific Northwest bagian atas menjadi titik potensial di masa depan untuk SLF.

Video Terkait 

Video Terkait