Kisah Inspiratif, Dosen Muda Bangun Peternakan Ayam Sekaligus Pengabdian

Sulasmi kisman (30) dosen dan wanita peternak asal Ternate.(Dok.Pribadi)

Penulis: Arif Sodhiq, Editor: Reza P - Jumat, 21 Januari 2022 | 17:05 WIB

Sariagri - Berada di wilayah lumbung ikan tidak menjadikan Pulau Ternate, Maluku Utara kehilangan potensi sektor peternakan. Daratan seluas 111,80 kilometer persegi (BPS 2016) itu memiliki populasi cukup padat sekitar 205,001 jiwa (BPS 2020).

Kondisi ini menyebabkan permintaan komoditas peternakan khususnya ayam pedaging cukup tinggi. Suplai yang masih rendah membuat usaha sektor peternakan menjadi berpotensi.

Sulasmi Kisman (30) asal Ternate adalah Magister Peternakan yang menyadari potensi besar bisnis peternakan sejak 2015. Menurut Sulasmi, saat itu jumlah peternak ayam broiler di Ternate tidak sampai 30 orang. 

"Waktu saya pulang dari studi di Pulau Jawa, saya melihat peluang usaha peternakan yang besar di Ternate. Belum banyak yang beternak, sementara permintaan daging ayam broiler cukup tinggi di sini," ujar Sulasmi kepada Sariagri.id.

Latar belakang pendidikannya di bidang peternakan juga mendorong semangat Sulasmi untuk membangun usaha peternakan.

"Motivasi selain melihat peluang usaha yang besar, sebagai Magister Peternakan saya ingin menerapkan langsung ilmu peternakan yang saya punya. Orang tahu saya ini kuliah peternakan tapi kok tidak ada peternakannya. Jadi dari situ saya semangat untuk mengembangkan usaha peternakan," ungkap Sulasmi.

Berlokasi di Kelurahan Sasa, Kecamatan Ternate Selatan, peternakan milik Sulasmi mengelola ribuan ekor ayam broiler.

"Awalnya hanya punya satu kandang kapasitas 400 ekor, terus bertambah hingga kini ada tiga kandang berkapasitas 600 - 800 ekor," sebut Sulasmi.

Potensi peternakan ayam broiler

Sulasmi mengatakan, dalam satu minggu dirinya bisa menghasilkan sekitar 800 ekor ayam broiler yang siap dipasarkan. Harga daging ayam segar di Ternate saat ini di kisaran Rp40.000 per kilogram.

"Omzet bisa dihitung 800 ekor dikali Rp40.000, tapi itu belum dikurangi persentase kematian sekitar 5 persen," katanya.

Produk ayam segar peternakan milik Sulasmi disuplai ke pedagang pasar, warung makan hingga konsumen akhir.

"Karena suplai ayam segar di sini masih kurang, jadi perihal penjualan tidak ada masalah," ungkapnya.

Menurut Sulasmi, produk ayam segar di Ternate tidak kehilangan eksistensinya meski di tengah banjir produk ayam beku dari luar pulau. Dia mengakui selama ini pangsa produk ayam beku dari wilayah Jawa dan Sulawesi lebih besar dari produk ayam segar yang diproduksi dari dalam pulau.

"Memang pasokan ayam segar di sini masih kurang banyak, tapi kami tidak kehilangan pelanggan, karena sudah banyak pelanggan yang paham dengan kualitas, jadi mereka lebih pilih beli ayam segar daripada produk ayam beku," katanya.

Tantangan peternak 

Potensi pasar cukup besar, tidak serta-merta usaha peternakan ayam broiler di Ternate bebas dari hambatan dan tantangan. Menurut pengalaman Sulasmi, input usaha khususnya Day Old Chicken (DOC) dan pakan unggas jadi tantangan utama yang harus dihadapi peternak. Hingga kini kedua input utama itu masih harus disuplai dari luar pulau.

"Belum ada produsen DOC dan pakan di pulau Ternate, jadi kami impor dari Manado," ungkapnya.

Harga pakan dan DOC yang terus naik juga menambah kesulitan para peternak di sana.

"Harganya tinggi juga, setiap tahun pakan juga pasti ada kenaikan harga," kata Sulasmi.

Pengabdian lewat peternakan

Bukan sekadar profit finansial yang dikejar Sulasmi dari usaha peternakannya. Ada nilai sosial yang selalu ingin diwujudkannya sebagai seorang peternak dan akademisi. Peternak yang juga dosen sebuah universitas negeri di Ternate itu mengatakan, selain menjadi tempat usaha, peternakan miliknya juga kerap dimanfaatkan mahasiswa untuk praktikum, magang dan penelitian.

Baca Juga: Kisah Inspiratif, Dosen Muda Bangun Peternakan Ayam Sekaligus Pengabdian
Pantang Menyerah, Kisah Peternak Ayam Asal Sumedang Nyaris Tutup karena Pandemi



"Sebenarnya peternakan ini juga sering dipakai mahasiswa untuk belajar, jadi bisa sekalian pengabdian tri dharma juga lewat peternakan ini," kata Sulasmi.

Sebagai tenaga pendidik dan punya pengalaman di peternakan mendorong Sulasmi membangun sebuah organisasi swadaya masyarakat bernama Lembaga Mitra Peternakan. Lembaga itu bergerak di bidang peternakan yang mencakup berbagai kegiatan sosial mulai dari penyuluhan, pelatihan dan pengembangan berbagai usaha peternakan.

"Jadi niatan awal saya membangun lembaga ini untuk mengembangkan potensi peternakan di wilayah Maluku Utara, tidak cuma ayam saja tapi juga termasuk di dalamnya peternakan sapi, kambing dan lainnya," pungkasnya. 

Video Terkait