Gara-gara Hal Ini, Permintaan Daging Buaya di Negara Ini Berlipat Ganda

Ilustrasi buaya. (pixabay)

Editor: Dera - Selasa, 18 Januari 2022 | 20:50 WIB

Sariagri - Jumlah buaya yang disembelih untuk diambil dagingnya setiap bulan meningkat dua kali lipat menjadi 20.000 menyusul lonjakan harga daging babi di Thailand.

Tren ini memberi harapan bagi peternak buaya yang kehilangan bisnis karena pandemi, kata Yosapong Temsiripong, presiden Asosiasi Petani Buaya Thailand.

Akibat turunnya pariwisata secara besar-besaran, katanya, para petani kurang mampu menjual kulit buaya. Yosapong mengatakan, apakah harga ini akan bertahan atau tidak tergantung pada apakah orang yang mencoba daging buaya menikmatinya atau tidak.

Dia mengatakan, bagaimanapun, ada harapan ini mungkin, karena daging buaya kaya protein dan dapat digunakan dalam sejumlah resep, tetapi lebih murah daripada ayam dan babi.

Melansir The Thaiger, satu peternakan buaya membuat posting di Facebook minggu lalu yang menawarkan daging reptil itu dengan harga 70 baht atau sekitar Rp30 ribu per kilogram. Jauh lebih murah dari daging babi yang sekitar 200 baht yaitu Rp86 ribu per kilogram. Peternakan mengatakan daging buaya rasanya mirip dengan ayam, menambahkan bahwa itu kaya protein dan “sangat sehat.”

Pihak berwenang Thailand awalnya membantah klaim bahwa kekurangan daging babi di negara itu disebabkan oleh wabah demam babi Afrika. Tetapi satu kasus penyakit terdeteksi bulan ini di rumah jagal di Nakhon Pathom, lapor Bangkok Post, mengutip Departemen Pengembangan Peternakan Thailand.

Baca Juga: Gara-gara Hal Ini, Permintaan Daging Buaya di Negara Ini Berlipat Ganda
Viral Tren Daging Ayam Direbus Bersama Obat Flu, Dokter Ungkap Bahayanya

Pihak berwenang telah memberi tahu masyarakat untuk tidak panik, karena penyakit virus, meskipun sangat menular dan mematikan bagi babi, tidak dapat ditularkan dari babi ke manusia. Beberapa menuduh pemerintah Thailand menutupi wabah demam babi Afrika, yang menyebabkan kekurangan daging babi yang ekstrem.

Harga daging babi meroket, menyebabkan pedagang kaki lima menaikkan harga hidangan daging babi atau berhenti menyajikan daging babi sama sekali. Pemerintah bahkan memberlakukan larangan ekspor babi hidup selama tiga bulan untuk membantu mengendalikan harga daging babi. 

Video Terkait