Pertama di Indonesia, UGM Akan Buka Jurusan Farmasi Hewan

Universitas Gadjah Mada akan buka jurusan Farmasi Hewan. (Sariagri/Eko Putro)

Editor: Tatang Adhiwidharta - Rabu, 12 Januari 2022 | 16:05 WIB

Sariagri - Tiga tahun lalu Fakultas Kedokteran Hewan UGM mendirikan Apotek Veteriner atau Apotek Khusus Hewan pertama di Indonesia. Namun, dalam waktu dekat UGM juga akan mendirikan jurusan farmasi hewan, jika berdiri ini akan menjadi jurusan farmasi hewan pertama di Indonesia.

“Di kita ada masalah soal penanganan kesehatan hewan. Sebab, kefarmasian adalah kewenangan Kementerian Kesehatan sedangkan Kedokteran Hewan kewenangan Kementerian Pertanian. Maka kami di UGM sedang merintis jurusan kefarmasian hewan dengan pijakan PP 26 tahun 2021 jadi nanti ada mou atau perjanjian kerjasama kefarmasian dengan kesehatan hewan,” demikian papar Dosen FKH UGM yang sekaligus Ketua Tim Pembentukan Apotek Veteriner UGM, Dr. drh. Agustina Dwi Wijayanti, M.P., saat dihubungi Sariagri, Rabu (12/1/2022).

Jurusan farmasi hewan, menurut Agustina sangat penting untuk dikembangkan di Indonesia karena selama ini obat-obatan untuk hewan masih banyak dikembangkan di luar negeri padahal pasar di dalam negeri sangat besar.

Selama ini yang terjadi farmasis dan apoteker, bidang keilimuan yang ada di Indonesia hanya ada untuk manusia dan belum ada keilmuan formal untuk farmasi veteriner atau farmasi hewan. Hal itu menimbulkan masalah di lapangan yakni, peredaran bebas obat bagi hewan di Indonesia selama ini kurang terkontrol.

“Target kita segera bisa berdiri ya jurusan farmasi verteriner ini, agar obat-obatan untuk hewan di dalam negeri bisa kita sediakan mandiri, tidak impor, dan sekaligus bisa kita kembangkan dan awasi dengan baik penggunaannya,” jelas Agustina.

Pengalaman mendirikan Apotek Veteriner diterangkan Agustina, bisa meminimalisir penggunaan obat hewan yang keliru di masyarakat. Menurutnya, obat-obat hewan beredar bebas di tengah masyarakat dan dapat diperoleh dengan mudah bakan obat keras sekalipun dapat diperoleh dengan mudah tanpa resep. Obat-obatan tersebut kemudian diketahui kerap kali disalahgunakan. 

”Nah sementara, apotek hewan ini jadi solusi dalam pengamanan penggunaan obat hewan, mengingat sekarang di masyarakat obat hewan bisa diperoleh di tempat-tempat seperti Poultry Shop, Pet Shop, toko-toko obat, ataupun retail-retail online. (Lalu) apakah ada jaminan bahwa retail-retail tersebut memiliki prosedur pelayanan obat yang ‘ketat’ ataupun memiliki tenaga berkompetensi (yang berperan) sebagai penanggungjawab obatnya, seperti dokter hewan atau apoteker? (jelas jawabannya adalah) kita tidak tahu,” tutur Dokter Agustina.

Baca Juga: Pertama di Indonesia, UGM Akan Buka Jurusan Farmasi Hewan
Arab Saudi Adakan Kontes Kecantikan Unta, 40 Hewan Didiskualifikasi karena Gunakan Botox

Untuk diketahui, Apotek Veteriner UGM berdiri dengan memorandum of understanding (MoU) antara Fakultas Kedokteran Hewan dan Fakultas Farmasi UGM. Sehingga, Apotek Veteriner UGM memiliki dua penanggung jawab, yakni dokter hewan dan farmasis atau apoteker.  

Agustina pun berharap pendirian Apotek Veteriner UGM ini dapat memantik pendirian apotek-apotek hewan di seluruh Indonesia. Sebab, dengan kehadiran apotek khusus hewan tersebut, masyarakat mempunyai rujukan untuk memperoleh obat hewan yang legal dan aman, dan mendapat edukasi seputar penggunaan obat-obat hewan.  

Video Terkait