Sapi Biru Asal Latvia yang Sempat 'Menghilang' Kini Telah Kembali

Ilustrasi - Sapi biru yang sempat menghilang kini telah kembali.(Pxhere)

Editor: Arif Sodhiq - Jumat, 7 Januari 2022 | 19:50 WIB

Sariagri - Sapi ultramarine berwarna biru muda atau gelap pernah menjadi hal baru di Latvia tetapi kemudian jarang terlihat. Kini sapi berwarna itu dapat dilihat lagi merumput di pedesaan Latvia di antara sapi berbintik coklat, hitam atau putih biasa.

Dilansir Daily Sabah, trah unik dan tangguh yang hampir punah selama era Soviet, telah muncul kembali selama beberapa dekade terakhir sebagai simbol identitas nasional Latvia.

"Hari-hari terburuk mereka sudah berakhir," ujar Kepala Taman Hewan Ciruli, Arnis Bergmanis di Desa Kalvene yang berfungsi sebagai tempat penangkaran sapi.

"Sapi biru itu unik dan luar biasa. Saya senang kami dapat membantu mereka berkembang," katanya saat memeriksa bayi sapi.

Pada tahun 2000 hanya ada 18 sapi biru di Latvia, tetapi hari ini jumlahnya sekitar 1.500, baik ras maupun hibrida. Awalnya hanya ditemukan di Pantai Baltik di wilayah Kurzeme, mereka semakin populer di daerah tengah.

"Kami dengan senang hati membantu setiap petani baru atau pemilik wisma mendapatkan sapi biru spesial mereka sendiri," kata Bergmanis.

Pemilik penginapan pedesaan memanfaatkan ternak sebagai daya tarik wisata, sementara petani memasukkan sapi biru dalam kawanan karena naluri keibuannya yang kuat.

"Jika anak sapi dengan warna apa pun kehilangan induknya atau terpisah, sapi biru akan mengambil anak sapi itu dan membesarkannya sebagai anaknya sendiri," kata Bergmanis.

Kuat dan mandiri

Kepala Asosiasi Sapi Biru Daiga Simkevica mengatakan sapi biru memberikan lebih sedikit susu daripada rata-rata sapi biasa, sekitar 5.000 liter (1.300 galon) per sapi per tahun dibandingkan 8.000 untuk jenis Holstein. Tetapi susunya lebih sehat dan lebih bergizi serta lebih menonjol karena kemampuannya berkembang dalam kondisi yang keras. 

"Sapi biru yang kuat, mandiri dan kuat dapat hidup sepanjang tahun di luar ruangan, bahkan selama musim dingin yang beku, yang tidak dapat ditanggung oleh banyak breed ternak lainnya," katanya.

Asosiasi Sapi Biru menyelenggarakan seminar untuk para petani, membuat catatan cermat guna menghindari perkawinan sedarah, bekerja menjaga populasi agar terus bertambah dan melakukan penelitian tentang ternak.

"Di masa depan kami berharap dapat melakukan analisis DNA lengkap untuk mengidentifikasi gen-gen yang unik pada sapi biru itu," kata Simkevica.

"Kami belum pernah melihat sapi biru terkena virus bovine leukosis, oleh karena itu kami berharap dapat mengidentifikasi gen yang mungkin bermanfaat bagi semua sapi lain juga," tambahnya. 

Simbol budaya

Sapi biru berevolusi di pantai, di mana hewan itu menjalani gaya hidup sederhana, bertahan hidup dari cabang semak dan rumput gundukan, pakan ternak yang dianggap tidak dapat dimakan ternak lain. Legenda mengatakan untuk mendapatkan warna dari laut, meski sebenarnya terlahir dengan warna hampir krem. Namun, warna sapi itu berubah menjadi biru dan lebih gelap seiring berjalannya waktu.

Pigmen juga mempengaruhi jaringan otot, menghasilkan daging sapi sangat gelap meski jumlahnya terlalu rendah untuk penjualan daging dalam skala massal. Ketika komunis berkuasa di bawah pendudukan Soviet, mereka menekankan produksi massal daging sapi dan susu serta menyukai ternak yang lebih generik, sehingga sapi biru hampir punah.

Baca Juga: Sapi Biru Asal Latvia yang Sempat 'Menghilang' Kini Telah Kembali
Kesulitan Pakan, Begini Pengakuan Para Peternak Sapi di Lombok Timur



Tapi melalui sebuah pertunjukan menyelamatkan populasi sapi biru. Setelah drama populer "The Blue One" karya Penulis Latvia Gunars Priede tahun 1970-an, mengingatkan kesadaran publik akan hilangnya ternak yang menjadi simbol identitas nasional.

Pada tahun 2006, petani dan ilmuwan mendirikan Asosiasi Sapi Biru untuk melindungi trah itu. Sementara itu, pemerintah menawarkan subsidi khusus bagi pemilik sapi biru. 

Video terkait:

Video Terkait