Kesulitan Pakan, Begini Pengakuan Para Peternak Sapi di Lombok Timur

Suasana pasar ternak di Nusa Tenggara Barat (NTB). (Sariagri/Yongki)

Editor: M Kautsar - Kamis, 6 Januari 2022 | 11:15 WIB

Sariagri - Habib, seorang Peternak Sapi asal Desa Labuhan Haji, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB) mengaku kerap mengalami kesulitan pakan ternak setiap tahun. Akibatnya, selain harus merogoh kocek lebih dalam sapi yang ia ternak juga sering kali terserang penyakit.

Musim pakan diakui habib hanya datang tiga kali dalam setahun, kecuali pada saat musim penghujan, itupun diakuinya pasokan pakan ternak masih belum mencukupi kebutuhan sapi yang ia pelihara.

"Untuk musim hujan kali ini masih standar pakan kita, setiap tahun pasti terjadi kesulitan pakan ini," ujar Habib.

Habib menceritakan, jumlah sapi yang ia pelihara saat ini sebanyak 15 ekor. Setiap harinya dia menghabiskan 10 sampai 15 ikat pakan ternak berupa pelepah pisang, rumput gajah dan dedaunan.

Untuk memperoleh pakan, dia bahkan harus mencari para penjual pakan yang ke luar wilayah tempat tinggalnya, biasanya pakan yang ia cari sendiri sering kali tidak mencukupi karema limitnya ketersediaan.

"Kemarin itu kita kesulitan sekali bahkan harus membeli pakan, tapi karena sekarang hujan pakan sudah ada lagi," katanya.

Selain karena cuaca, menurut Habib, kurangnya ketersediaan pakan juga diakibatkan karena kelangkaan pupuk. Sebab, para penyedia pakan berupa rumput gajah harus bergantung pada pupuk agar tanaman rumputnya tumbuh sempurna.

"Gara-gara pupuk langka itu juga kemarin yang membuat para penanam rumput ini tidak bisa mupuk, dan tidak ada yang berani beli pupuk juga karena terlalu mahal," akunya.

Tidak hanya dihadapkan dengan sulitnya pakan, pada musim penghujan ini, sapi yang ia pelihara juga kerap terserang penyakit. Untuk mengatasinya ia harus memanggil dokter hewan.

"Musim hujan ini sapi kita sering sakit, palingan kalau sakit kita panggil mantri," ucapnya.

Selain berharap agar pemerintah menyediakan pakan ternak secara luas, Habib dan para peternak lain juga meminta agar pemerintah rutin untuk turun ke lapangan mengecek kondisi peternakan mereka.

"Selama ini di peternak kami tidak ada yang pernah turun soalnya, apalagi mengecek kesehatan," imbuhnya.

Sekretaris Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakeswan), Suryatman Wahyudi menjelaskan, pemerintah saat ini menggencarkan program berupa pinjaman Kredit Usaha Rakyat (KUR) sebagai upaya menambah modal para peternak di daerah.

Pada 2022 ini, kata Suryatman, plafon KUR ternak ditambah. Peternak yang lunas tahap pertama akan diberikan Rp20 juta dari sebelumnya Rp15 juta per peternak dengan mempersiapkan subsidi bunga sebesar Rp6 miliar.

"Sebelumnya daerah mengeluarkan sebesar Rp 4,86 miliar untuk subsidi. Di mana, jumlah nasabah 5,203 dengan 817 kelompok ternak. Total KUR yang keluar di Bank BNI dan BRI mencapai Rp 78 miliar dengan asuransi yang dibayarkan Rp1,5 miliar," terangnya.

Ditambahkan Suryatman, pemberian plafon Rp20 juta kepada peternak dianggap lancar. Dalam hal ini, program ini maksimal diberikan dua kali dan pada tahun ketiga diharapkan peternak sudah mandiri mengingat peternak diberikan keleluasan pilih sapi dan bisa juga untuk indukan.

Baca Juga: Kesulitan Pakan, Begini Pengakuan Para Peternak Sapi di Lombok Timur
Agroeduwisata Cibugary, Peternakan Sapi Perah di Tengah Padatnya Jakarta



Adapun suku bunga yang ditanggung oleh pemerintah Lotim adalah 6 persen efektif per tahun. Untuk plafon Rp15 juta, ditanggung Rp 900 ribu per tahun.

"Sementara untuk yang Rp20 juta pada pelaksanaan program tahun ini dihitung sekitar Rp1,2 juta subsidi yang akan dibayarkan pemerintah Lombok Timur," tutupnya.

Video Terkait