Mengintip Potensi Gurihnya Usaha Ternak Ayam Kalkun

Ilustrasi ayam kalkun. (Foto Unsplash)

Penulis: M Kautsar, Editor: Nazarudin - Rabu, 29 Desember 2021 | 18:30 WIB

Sariagri - Pernah melihat ayam kalkun? Unggas satu ini mudah dikenali cukup populer karena keindahan warnanya dan ukuran tubuh cukup besar. Di sejumlah negara, ayam kalkun sejak lama dijadikan hidangan favorit dalam perayaan hari besar, seperti Natal.

Meski belum sepopuler seperti di beberapa negara Eropa dan Amerika, ayam kalkun cukup berpotensi dibudidayakan karena nilai jualnya cukup tinggi. Selain itu, daging kalkun juga memiliki kelebihan dibanding daging unggas lain, baik dari sisi cita rasa maupun kandungan proteinnya.

Namun, alih-alih sebagai ternak pedaging tak jarang masyarakat menjadikan ayam kalkun sebagai hewan peliharaan

Sejarah ayam kalkun


Dalam bahasa Inggris, ayam kalkun dikenal dengan nama turkeys. Meski demikian, unggas ini ternyata bukan berasal dari Turki. Menurut sejumlah catatan, kalkun yang merupakan spesies burung berukuran besar dari ordo Galliformes genus Meleagris ini aealnya ditemukan di Meksiko dan Amerika Utara sekitar 400 tahun silam.

Melansir Britannica, domestikasi kalkun secara umum kemungkinan dimulai oleh orang India di Meksiko pra-Columbus. Burung ini pertama kali dibawa ke Spanyol sekitar tahun 1519, dan dari Spanyol menyebar ke seluruh Eropa, mencapai Inggris pada tahun 1541. Namun otang Inggris menganggap unggas ini berasal dari Turki, sehingga penamaan itu tetap bertahan hingga saat ini.

Koloni Inggris kemudian memperkenalkan galur kalkun Eropa ke Amerika Utara bagian timur pada abad ke-17.  Saat itu, kalkun dibiakkan terutama untuk bulunya yang berwarna indah sampai sekitar tahun 1935, setelah itu penekanan pemuliaan berubah menjadi kualitas dagingnya.

Daging kalkun di banyak negara Eropa telah lama menjadi hidangan wajib pada perayaan Natal. Sedangkan di Amerika Serikat ayam kalkun identik dengan perayaan Thanksgiving.

Ilustrasi kalkun (Foto: Pixabay)
Ilustrasi kalkun (Foto: Pixabay)

Selain posturnya yang besar dan warna bulu yang indah, ciri khas utama ayam kalkun adalah keberadaan gelambir kulit pada bagian kepala yang disebut snood. Pada pejantan, snood ini juga terkait dengan proses perkawinan, di antaranya untuk menarik perhatian betina.

Di samping itu, semakin panjang gelambir kulit pada kepala kalkun menunjukan ia lebih dominan dibanding pejantan lain. Sebuah penelitian menyebut, kalkun jantan yang snood-nya semakin panjang membawa sedikit parasit sehingga lebih sehat.

Ayam kalkun sendiri terdiri dari banyak jenis. Di dunia, setidaknya terdapat sepuluh jenis ayam kalkun yang sudah diternakan. Di antaranya bronze, golden palm, pencilled palm, kalkun narragansett, white holland, dan bourbon red. Sedengkan jenis lainnya adalah black spanish, blue slate, royal palm, dan self buff.

Ayam kalkun potensi bisnis menjanjikan


Sebagai hewan ternak, ayam kalkun menyimpan potensi besar untuk dikembangkan dan dibudidayakan. Bobotnya yang besar menjanjikan tingkat produksi daging yang tinggi. Tidak hanya itu, dagingnya pun tak kalah lezat dan kaya kandungan protein. Rendahnya kandungan lemak dan kolesterol pada daging kalkun membuat unggas ini layak dijadikan sumber daging protein tinggi.

Di Indonesia, peternakan ayam kalkun sendiri belakangan mulai tersebar di berbagai daerah, baik skala besar dan kecil. Sejumlah daerah dimana peternakan ayam kalkun banyak ditenuai diantaranya Yogyakarta, Surabaya, Semarang, Jakarta, dan Medan.

Sebagai unggas pedaging, peternakan ayam kalkun cukup menjanjikan dengan potensi pasar yang terus meningkat. Untuk jenis  bronze, misalnya, daging kalkun dijual antara Rp300.000-400.000 per 7 kilogram.

Itu belum termasuk keuntungan dari telur. Beberapa sumber menyebut, untuk setiap 40 ekor pasang kalkun, dapat menghasilkan paling sedikit 500 telur per bulan, dimana tingkat keberhasilan penetasan juga sangat tinggi. Ayam kalkun umumnya mulai menghasilkan telur pada usia 32 pekan. Untuk jenis tertentu harga telur ayam kalkun bahkan bisa mencapai Rp45 ribu.

Peternak ayam kalkun di Kabupaten Banyumas, Kusworo. (Foto: Sariagri/Pena Zun)
Peternak ayam kalkun di Kabupaten Banyumas, Kusworo. (Foto: Sariagri/Pena Zun)

Pada usia 8 bulan bobot ayam kalkun bisa mencapai 5 kilogram lebih bila asupan gizinya bisa terpenuhi.

Nah, bagi para pemula, memulai usaha ternak ayam kalkun juga tidak terlalu sukar. Bagi mereka yang mau mencoba, setidaknya ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, diantaranya:

1. Pemilihan lokasi kandang

Kondisi kandang sedikit banyak mempengaruhi hasil produksi ternak ayam kalkun. Selain nyaman, lokasi idealnya jauh dari gangguan binatang liar atau pemukiman warga, termasuk ancaman potensi lonsor atau banjir. Kandang sebaiknya juga dibangun dalam dua model, yaitu yang terbuka dan memiliki atap.

2. Pemilihan bibit

Memilih bibit berkualitas penting untuk mendapatkan indukan kalkun yang juga berkualitas dan unggul. Untuk itu, pastikan bibit yang dibeli sehat, berpostur tegap dan besar, serta tidak ada cacat pada bagian tubuh.

3. Pemberian pakan

Jenis pakan bagi ayam kalkun tidak terlalu sulit dan mudah didapat. Untuk pakan, bisa memanfaatkan dedak, enceng gondok, sayuran hijau hingga sisa makanan rumah.

Baca Juga: Mengintip Potensi Gurihnya Usaha Ternak Ayam Kalkun
Flu Burung Merebak di Inggris, Kepala Veteriner Minta Para Peternak Lakukan Tindakan Pencegahan



Pemberian pakan dilakukan sebanyak dua kali sehari dan pastikan pakan diberikan dengan takaran yang pas sehingga tidak ada pakan yang tersisa. Lokasi air minum sebaiknya tidak terlalu dekat dengan lokasi pakan agar pakan tidak tercampur dalam air.

Untuk kalkun umur 0-1,5 bulan biasanya memerlukan suhu yang hangat dengan ukuran 30-45 derajat Celcius. Pada umur ini ayam kalkun membutuhkan pakan berupa BR-1 dengan ditambahkan campuran air panas dan sayuran seperti sawi ataupun sayuran hijau lainnya.

Video Terkait