Hati-hati, Cacing Parasit pada Anjing dan Kucing Bisa Berpindah ke Manusia

Ilustrasi parasit. (Istimewa)

Editor: Tatang Adhiwidharta - Rabu, 22 Desember 2021 | 12:10 WIB

Sariagri - Memeliharan hewan kesayangan seperti anjing dan kucing memang menyenangkan. Tetapi bahayanya, cacing parasit yang menginfeksi kedua hewan pendamping tersebut ternyata bisa melompat atau berpindah ke manusia dan menyebabkan timbulnya penyakit serius.

Penelitian baru dari Pusat Ekologi Penyakit Menular Universitas Georgia, mengidentifikasi tiga spesies cacing yang saat ini tidak menginfeksi manusia secara langsung, tetapi memiliki peluang lebih dari 70% untuk berpindah ke manusia dari hewan peliharaan.

"Hubungan dekat yang kita miliki dengan hewan peliharaan adalah alasan utama mengapa orang mungkin terinfeksi spesies baru cacing parasit," kata Ania Majewska, penulis utama studi dan lulusan doktoral dari Odum School of Ecology, seperti dikutip phys.org. Menurutnya, perilaku sehari-hari seperti bermain dan memberi makan hewan peliharaan meningkatkan peluang parasit itu menginfeksi manusia.

Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal The Royal Society Philosophical Transactions B, berfokus pada 737 spesies cacing parasit yang sebagian besar menginfeksi mamalia liar dan peliharaan. Dari jumlah tersebut, 137 diantaranya dapat menginfeksi manusia.

Para peneliti mengkategorikan ciri-ciri spesies cacing, dan membangun model pembelajaran mesin untuk menentukan karakteristik mana yang paling sering menginfeksi manusia.

Mereka menemukan, cacing yang dapat menginfeksi hewan pendamping atau ikan lebih mungkin menyebabkan infeksi pada manusia dibandingkan cacing yang menginfeksi spesies hewan lain. Parasit yang tersebar secara geografis juga lebih mungkin untuk berpindah dari hewan ke manusia.

Penelitian juga mengidentifikasi tiga spesies cacing yang sebelumnya tidak menginfeksi manusia, tapi kini memiliki potensi besar untuk menginfeksi manusia. Ketiga cacing itu adalah Paramphistomum cervi (cacing pipih yang banyak ditemukan pada ternak dan beberapa hewan liar), Schistocephalus solidus (cacing pita berbahan dasar ikan yang juga menginfeksi burung dan hewan pengerat), dan Strongyloides papillosus (cacing kremi yang banyak ditemukan pada ternak).

Cacing parasit pada Anjing dan Kucing


Anjing dan kucing relatif mudah terinfeksi cacing parasit, terutama jika mereka dibiarkan berkeliaran di luar rumah pada siang hari.

"Hewan peliharaan kita bisa terinfeksi cacing tanpa kita sadari. Anjing dan kucing, terutama yang bebas berkeliaran di luar, bersentuhan langsung atau tidak langsung dengan hewan liar, kotorannya, dan sumber cacing lainnya," kata Majewska.

Ikan juga bisa menjadi inang berbagai cacing parasit. Orang dapat dengan mudah terinfeksi dengan memakan ikan mentah, kurang matang, atau tidak dimasak dengan benar. Cacing gelang yang menyebabkan penyakit cacing herring misalnya, menginfeksi ribuan orang setiap tahun, sebagian besar di daerah di mana makan ikan mentah biasa terjadi, seperti Jepang dan sebagian Eropa.

"Infeksi cacing parasit pada manusia memiliki asal-usul kuno, dan kita akan selalu dikaitkan dengan mereka. Namun, karena perubahan iklim dan peningkatan permintaan protein hewani, kami memprediksi infeksi cacing parasit pada manusia akan terus meningkat. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memahami bagaimana limpahan cacing parasit ke manusia dapat dikelola," kata penulis senior John Drake, Profesor Riset Ekologi dan direktur CEID.  

Baca Juga: Hati-hati, Cacing Parasit pada Anjing dan Kucing Bisa Berpindah ke Manusia
Layaknya Manusia, Hewan Peliharaan Juga Bisa Alami Gangguan Kesehatan Mental



Organisasi Kesehatan Dunia mencatat, cacing parasit diperkirakan telah menginfeksi 1,5 miliar orang di seluruh dunia. Infeksi parasit ini bisa menyebabkan sejumlah penyakit serius, termasuk schistosomiasis dan filariasis.

Video Terkait