Gara-gara Harimau Berkeliaran, Warga Sumbar Takut Pergi ke Kebun Sawit

Petani di Agam, Sumatera Barat takut ke kebun sawit karena ada harimau berkeliaran. (Antara)

Editor: Dera - Jumat, 10 Desember 2021 | 18:40 WIB

Sariagri - Warga Maua Hilia, Nagari Salareh Aia, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, tidak berani ke kebun untuk memanen buah pinang dan kelapa sawit semenjak Harimau Sumatera (Panthera Tigris Sumatrae) berkeliaran di pemukiman 11 hari lalu.

Salah seorang warga, Rano (38) mengatakan pihaknya tidak pernah ke kebun untuk memanen hasil perkebunan jenis pinang dan tandan buah segar kelapa sawit.

"Saya dan warga lainnya tidak pernah ke kebun semenjak harimau memangsa dua ekor sapi pada Selasa (30/11) sampai Jumat (10/12)," katanya di Lubukbasung, Jumat (10/12).

Dengan kondisi itu, tambahnya buah pinang dan tandan buah segar kelapa sawit sudah masak, sehingga sudah jatuh ke tanah. Ini mengingat buah pinang dan tandan buah segar kelapa sawit sudah bisa dipanen satu minggu lalu.

"Pohon pinang ada sekitar 800 batang dan kelapa sawit 570 batang yang tidak dipanen," katanya.

Akibat kondisi itu, pihaknya mengalami kerugian sekitar Rp3 juta untuk tandan buah segar kelapa sawit, karena harga Rp2.500 per kilogram. Sedangkan produksi tandan buah segar kelapa sawit sekitar 1,6 ton per panen.

"Untuk buah pinang, bisa kami kumpulkan beberapa hari ke depan," katanya.

Sementara Kepala Resor Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Agam, Ade Putra mengimbau warga untuk bersama-sama ke kebun dalam memanen dan mengandangkan ternak.

"Warga agar tidak terpancing dengan isu tidak benar seperti, sering ditemukan harimau dan mahkluk lainnya," katanya.

Ia menambahkan, Resor KSDA Agam sudah dua kali melakukan penanganan konflik manusia dengan satwa ini. Penanganan pertama pada 1-4 Desember 2021 dan jejak satwa tidak ditemukan, sehingga dihentikan.

Baca Juga: Gara-gara Harimau Berkeliaran, Warga Sumbar Takut Pergi ke Kebun Sawit
Tes Kepribadian: Pilih Satu di Antara Hewan Ini, Bisa Ungkap Penyebab Kamu Alami Stres

Setelah itu, harimau kembali muncul dengan mengejar lima sapi milik Doni (18) dan Zara (35) pada Senin (6/12) pagi, sehingga Tim KSDA Agam kembali melakukan penanganan berupa memasang kamera jebak dan meningkatkan penghalauan dengan cara bunyi-buyian.

"Kamera jebak tidak mendapat gambar visual dan jejak kaki harimau yang baru tidak ditemukan, sehingga penanganan konflik kita hentikan," katanya.

Video Terkait