Mengapa Berang-Berang Laut Bisa Bertahan di Cuaca Dingin? Ini Kata Ilmuwan

Ilustrasi berang-berang laut. (pixabay)

Editor: Dera - Rabu, 8 Desember 2021 | 20:30 WIB

Sariagri - Hidup dalam cuaca dingin membuat sebagian hewan menjadi tidak nyaman. Saat tubuh kedinginan, respon tubuh akan melambat sehingga terancam hipotermia.

Bagi hewan berdarah dingin seperti reptil dan amfibi, suhu tubuh akan menyesuaikan dengan lingkungannya. Sementara bagi hewan mamalia, suhu tubuh akan bergantung pada meteabolismenya termasuk ketik cuaca dingin, maka metabolisme tubuhnya akan meningkat.

Meskipun para ilmuwan mengetahui bahwa mamalia dapat meningkatkan metabolisme mereka dalam cuaca dingin, belum jelas organ atau jaringan mana yang menggunakan energi ekstra ini untuk menghasilkan lebih banyak panas. Namun bagi mamalia air kecil seperti berang-berang laut, mereka memiliki cara unik untuk bertahan dan beradaptasi pada cuaca dingin.

Dikutip dari Science Alert, Heidi Pearson, seorang ilmuwan metabolisme manusia dan mamalia laut dari University of Alaska Tenggara dan Mike Murray dari Monterey Bay Aquarium, mencoba meneliti penggunaan energi pada hewan yang beradaptasi dalam cuaca dingin seperti berang-berang.

Metabolisme berang-berang laut

Sangat sulit bagi mamalia yang hidup di air untuk tetap hangat karena air membuang panas dari tubuh jauh lebih cepat daripada di udara. Sebab itu, kebanyakan mamalia laut memiliki tubuh yang besar dan lapisan lemak tebal supaya tubuhnya tetap hangat.

Sementara berang-berang laut adalah mamalia laut terkecil yang tidak memiliki lapisan lemak tebal. Sebaliknya, mereka dipenuhi oleh bulu terpadat dari mamalia mana pun, sebanyak satu juta rambut per inci persegi.

Bulu ini memerlukan perawatan yang tinggi dan teratur. Sekitar 10 persen dari aktivitas harian berang-berang laut dihabiskan untuk menjaga lapisan isolasi udara yang terperangkap di bulu mereka.

Namun bulu lebat saja tidak cukup untuk membuat berang-berang laut tetap hangat. Untuk menghasilkan panas tubuh yang cukup, mereka memiliki tingkat metabolisme tiga kali lebih tinggi saat istirahat dari kebanyakan mamalia dengan ukuran yang sama.

Tingkat metabolisme yang tinggi ini tentunya membutuhkan biaya. Sehingga untuk mendapatkan energi yang cukup, berang-berang laut harus makan lebih dari 20 persen massa tubuh mereka dalam bentuk makanan setiap hari.

Sebagai perbandingan, manusia makan sekitar 2 persen dari massa tubuh mereka, yaitu sekitar 1,3 kilogram makanan per hari untuk orang dengan berat 70 kg.

Dari mana datangnya panas?

Ketika hewan makan, energi dalam makanan mereka tidak dapat digunakan secara langsung oleh sel untuk melakukan aktivitas. Sebaliknya, makanan dipecah menjadi nutrisi sederhana, seperti lemak dan gula. Nutrisi ini kemudian diangkut dalam darah dan diserap oleh sel.

Di dalam sel terdapat kompartemen yang disebut mitokondria tempat nutrisi diubah menjadi ATP, yaitu molekul berenergi tinggi yang bertindak sebagai mata uang energi sel.

Proses mengubah nutrisi menjadi ATP mirip dengan kerja bendungan mengubah air menjadi listrik. Saat air mengalir keluar dari bendungan, maka akan menghasilkan listrik dengan memutar bilah yang terhubung ke generator. Jika bendungan bocor, sebagian air atau energi yang tersimpan akan hilang dan tidak dapat digunakan untuk menghasilkan listrik.

Baca Juga: Mengapa Berang-Berang Laut Bisa Bertahan di Cuaca Dingin? Ini Kata Ilmuwan
Saat Makanan Langka, Monyet Salju di Jepang Ternyata Berburu Ikan

Demikian pula, mitokondria yang bocor kurang efisien dalam membuat ATP dari nutrisi. Meskipun energi yang bocor di mitokondria tidak dapat digunakan untuk melakukan aktifitas, namun energi tersebut menghasilkan panas untuk menghangatkan tubuh berang-berang laut.

Otot membentuk 30 persen dari massa tubuh kebanyakan mamalia. Saat aktif, otot mengambil banyak energi dan menghasilkan banyak panas. Mereka menemukan mitokondria pada otot berang-berang laut bisa sangat bocor, memungkinkan berang-berang menaikkan panas di otot mereka tanpa aktivitas fisik atau menggigil.

Video Terkait