Peternakan Dunia Belum Siap Menuju Nol Bersih Emisi, Kok Bisa?

Ilustrasi peternakan sapi. (Pixabay/NickyPe)

Editor: Tatang Adhiwidharta - Jumat, 3 Desember 2021 | 19:40 WIB

Sariagri - Sektor peternakan di seluruh dunia dinilai "tidak siap" untuk melakukan transisi ke program nol bersih (emisi). Bahkan masih berisiko "merusak" tujuan iklim dan deforestasi yang tercantum dalam Konferensi PBB ke-26 untuk Perubahan Iklim (COP26).

Penilaian ini disampaikan oleh jaringan investor the Farm Animal Investment Risk & Return (FAIRR), dalam laporan yang diterbitkan Kamis, 1 Desember 2021. Laporan itu menyebutkan, hanya 18% dari produsen daging dan susu global berada di jalur yang benar untuk mencapai pengurangan sebagian emisi metana mereka, demikian dikutip dari investmentweek.co.uk.

FAIRR juga menyoroti bahwa raksasa produsen daging - seperti pemasok McDonald's JBS dan Marfrig - yang selalu berjanji menjalankan program nol-deforestasi, tidak memiliki visibilitas penuh untuk mewujudkan janjinya mengurangi deforestasi hingga 90% untuk kepentingan peternakan mereka.

Jeremy Coller, ketua dan pendiri FAIRR dan CIO Coller Capital mengatakan, sebagai penghasil besar gas metana, peternakan sapi kini seperti batu bara baru.

Dengan fakta bahwa hanya kurang dari 20% pemimpin industri daging dan susu yang serius mengukur emisi mereka, seharusnya ini menjadi "bendera merah" bagi komitmen COP26 untuk mengurangi emisi metana hingga 30% secara global selama sepuluh tahun ke depan.

Emisi metana tahunan dari peternakan menghasilkan 44% dari emisi metana global. Data dari Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) menunjukkan bahwa ada 70 miliar hewan ternak di seluruh dunia yang menghasilkan dua kali lipat volume kotoran (feses) dari seluruh populasi manusia. Semua kotoran ini melepaskan metana dan selanjutnya mengancam keanekaragaman hayati dan kesehatan manusia, tulis FAIRR dalam laporannya.

Baca Juga: Peternakan Dunia Belum Siap Menuju Nol Bersih Emisi, Kok Bisa?
Program 1.000 Sapi Kementan di Lingkar Mandalika Tuntas 100 Persen



FAIRR juga menyebut, 86% pemasok daging dan susu terbesar dunia masih gagal menetapkan target pengurangan emisi yang berarti. Diperlukan kerja yang lebih keras untuk mewujudkan program nol bersih emisi, termasuk mengubah pola makan daging penduduk dunia saat ini.

Video Terkait