Pria Milenial Ini Raih Omzet Jutaan Perbulan dari Budi Daya Cacing

Budidaya Cacing. (Sariagri/Arief L)

Penulis: Tatang Adhiwidharta, Editor: Reza P - Jumat, 3 Desember 2021 | 15:40 WIB

Sariagri - Latif, pria asal Madiun, Jawa Timur merupakan salah satu milenial yang sukses menekuni budi daya cacing. Berbagai jenis cacing ia budidayakan di kolam yang sudah di sekat menjadi sembilan bagian dan mampu menghasilkan jutaan rupiah per bulan.

“Saya mulai usaha cacing sejak 2015 akhir, itu masih kuliah semester tiga. Dulu dari dua kolam di dalam dapur, dulu saya beli bibit 50 kilo,” ujarnya seperti dikutip dari Channel Youtube Tanilink TV, Jumat (3/12).

Latif menerangkan bahwa terdapat macam-macam cacing yang dibudidayakan masyarakat di antaranya jenis cacing ANC atau cacing merah, cacing tiger, dan cacing lumbricus. Namun, cacing yang dibudidayakannya berfokus pada cacing ANC.

“Yang saya budidayakan ini untuk kesehatan juga bisa, cuma lebih untuk peternakan kayak peternakan murai, belut, udang sama di pemancingan,” terangnya.

Latif mengungkapkan bahwa setelah melakukan penebaran bibit cacing, perlu waktu hingga tiga bulan untuk mendapatkan cacing dengan postur yang maksimal. Setelah itu, lanjut dia, cacing tersebut dipindahkan ketempat lainnya untuk pengembangan dan menunggu hingga satu bulan baru dilakukan pemanenan.

“Dari kolam berukuran 1x3 meter ditebar bibit sebanyak 5 kilo, dalam satu kali panen bisa dapat 3-5 kilogram, dalam sebulan bisa dua kali panen,” ungkapnya.

Dia menyebutkan bahwa satu kilogram cacing saat ini dibanderol dengan harga Rp40 ribu. Dengan lahan yang kecil, Latif bisa mendapatkan keuntungan mencapai jutaan rupiah per bulannya.

Budi Daya cacing merah

Latif menjelaskan terkait budi daya cacing merah tidak begitu rumit, hanya yang perlu diperhatikan adalah pakan dan media yang digunakan untuk budi daya.

“Cacing itu (budidayanya) uniknya pakai limbah, dari medianya sampai pakannya pakai limbah. Untuk medianya pakai limbah pabrik gula, onggok aren, baglog bekas budidaya jamur itu dicampur, kotoran sapi juga bisa,” jelasnya.

Sementara untuk pakan, lanjut dia, menggunakan blotong atau limbah padat dari pabrik gula yang dicampurkan dengan molase kemudian difermentasikan. Setelah fermentasi itu selesai dalam beberapa hari pakan siap digunakan, dan diberikan dua hari sekali ke cacing.

Baca Juga: Pria Milenial Ini Raih Omzet Jutaan Perbulan dari Budi Daya Cacing
Ratusan Pelajar Kuliah Sehari di IPB University, Diajarkan Soal Agribisnis

Latif menambahkan kendala dalam budidaya cacing yang dialaminya selama ini adalah pasokan pakan dari limbah pabrik gula. Menurutnya, limbah tersebut tersedia pada saat musim giling saja, solusinya, latif menggunakan log jamur, cocopeat dan ampas aren.

Selain budidaya cacing, Latif juga menekuni budidaya ulat jerman, ulat hongkong, jangkrik alam, jangkrik genggong, dan ulat kandang. Sejauh ini dia berhasil mengirim hasil budidayanya tersebut hingga ke pulau Sumatera.

Video Terkait