Penyelamat Ekonomi, Hewan Ternak Ini Dianggap Raja di Somalia

Ilustrasi - Unta adalah raja di Somalia.(Pixabay)

Editor: Arif Sodhiq - Kamis, 18 November 2021 | 09:00 WIB

Sariagri - Bagi warga Somalia, unta lebih dari sekadar alat transportasi dan sumber nutrisi. Lebih dari itu, unta merupakan penggerak utama perdagangan di tengah ancaman kehancuran perekonomian negara akibat konflik. 

Unta menjadi bagian penting dalam kehidupan sehari-hari warga Somalia di tengah konflik berkepanjangan, ketidakstabilan politik dan dampak negatif perubahan iklim.

Ali Abdi Elmi adalah salah satu warga yang menjadikan unta sebagai bagian dari kehidupan sehar-harinya. Selain sebagai sarana transportasi, Ali Abdi Elmi juga memanfaatkan unta untuk diperah susunya.

"Saya punya lima anak, dan kami semua bergantung pada susu unta untuk bertahan hidup," ujar Elmi sambil memberikan susu unta kepada salah seorang anaknya. 

Sebagian besar warga Somalia menjadikan unta sebagai sumber susu dan daging, dan hewan pembawa beban di padang pasir. Ketika perubahan iklim memicu cuaca ekstrem di Tanduk Afrika, hewan itu memberikan jaminan di saat krisis.

Di Somalia unta dirayakan dalam lagu dan cerita rakyat, simbol status dan kemakmuran serta dipertukarkan dalam pernikahan atau untuk menyelesaikan permusuhan.

Masyarakat pedesaan menjadikan unta dan ternak lainnya sebagai menopang ekonomi yang hancur akibat perang dan bencana alam. Menurut Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO), industri peternakan adalah kontributor utama pertumbuhan ekonomi di Somalia yang pada tahun-tahun normal menyumbang 80% dari ekspor. Dengan jumlah 7 juta ekor,  Somalia memiliki lebih banyak unta daripada di wilayah lain. 

"Kami tidak memiliki minyak mentah di negara ini. Unta adalah minyak mentah kami," ujar Abdi Rashid, pedagang di pasar ternak terbesar Hargeisa.

Unta ikon budaya

Menurut Khosar Abdi Hussein, harga unta dengan kualitas bagus bisa mencapai 1.000 dolar AS (860 euro). Hussein bekerja sebagai pengawas pasar di mana susu segar unta dijual dan bahkan air seni unta, yang diyakini bermanfaat bagi kesehatan dikemas dalam botol.

Penjualan unta dilakukan dengan cara mengunci tangan di bawah selendang kotak-kotak yang dibawa penggembala. Jumlah buku jari yang diketuk dan jari yang digenggam menentukan harga. Cara unik ini adalah tradisi untuk memastikan negosiasi dijaga kerahasiaannya. Transaksi diselesaikan dengan transfer uang seluler hingga cara kuno dalam berbisnis.

"Unta penting bagi budaya Somalia karena satu selalu dianggap kaya, atau dapat naik status sosial, dengan jumlah unta yang mereka miliki," kata Hussein yang memiliki sembilan unta.

Namun di Somalia, di mana hampir tujuh dari 10 orang hidup dalam kemiskinan menurut Bank Dunia, hanya sedikit yang mampu membeli satu unta, apalagi dalam jumlah banyak. Elmi adalah salah satu dari duapertiga orang Somalia yang bergantung pada ternak.

Unta masih menghasilkan susu selama musim kemarau sehingga membantu pengembara yang biasa sebulan di tanah kering.

“Susu itu baik untuk kita, karena unta merumput dari pohon dengan khasiat obat yang membantu memerangi penyakit,” kata Elmi. 

Di masa sulit, dia masih bisa membeli kebutuhan keluarganya dengan menjual susu ke pedagang di Hargeisa, di mana botol segar tersedia setiap hari di jalanan. Dalam keadaan darurat, unta dapat disembelih dan dagingnya dijual ke kota untuk diolah manjadi makanan lokal yang lezat.

Kehidupan keras di gurun

Kehidupan di gurun adalah kehidupan yang keras, diperparah curah hujan tidak menentu di Tanduk Afrika, sebuah wilayah yang menurut para ilmuwan Amerika Serikat, mengering lebih cepat daripada waktu lainnya dalam 2.000 tahun terakhir.

Pengembara dipaksa menempuh perjalanan jarak yang lebih jauh untuk menemukan air dan tanah penggembalaan hewan berharga mereka. Reputasi Somalia sebagai "kapal gurun" sedang diuji dengan perubahan iklim.

Ribuan unta dan ternak lainnya tenggelam ketika Topan Gati – badai tropis terkuat yang pernah melanda di Somalia – mengubah gurun menjadi laut pada akhir 2020. Dua tahun sebelumnya, kekeringan berkepanjangan menipiskan jumlah ternak di beberapa bagian negara hingga 60%.

Hilangnya ternak selalu menyebabkan kelaparan di Somalia, dan jutaan penggembala miskin mengadu nasib ke kota dalam beberapa tahun terakhir karena kehidupan sebelumnya menjadi tidak berkelanjutan. Di wilayah utara Somaliland, otoritas setempat berniat membangun permukiman di sepanjang garis pantai Teluk Aden – prospek yang tidak terbayangkan bagi beberapa orang gurun pasir.

Baca Juga: Penyelamat Ekonomi, Hewan Ternak Ini Dianggap Raja di Somalia
Diduga Habis Makan Hewan Ternak, Ular Sanca Berukuran 4 Meter Diamankan Warga



"Saya tidak melihat cara hidup kita berubah dalam waktu dekat," kata Khosar Farrah (68) yang telah menggembalakan unta selama setengah abad.

"Di sini, unta adalah raja," katanya sambil tertawa, seperti dilaporkan Daily Sabah.

Video terkait:

 

Video Terkait