Studi: Anjing Ternyata Mampu Memahami Kata-kata yang Lebih Kompleks

Bobi, anak anjing yang ditolak kembali oleh pemiliknya (Howl of A Dog)

Editor: Tatang Adhiwidharta - Selasa, 9 November 2021 | 19:30 WIB

Sariagri - Mungkin banyak anjing paham dan patuh saat pemilik mereka memberi perintah, "duduk" atau "salam". Namun bukan hanya kata-kata sederhana, sebuah penelitian mengungkapkan bahwa anjing ternyata mampu memahami kata-kata yang jauh lebih rumit dan kompleks dari yang kita perkirakan.

Selama ini para peneliti mengetahui bahwa bayi manusia, pada usia delapan bulan, dapat mengetahui bahwa sekelompok suku kata yang sering dirangkai adalah kata-kata, sedangkan suara yang tidak dikelompokkan,  mungkin tidak.

Sekarang, dalam sebuah penelitian yang dilakukan di Universitas Eötvös Loránd di Hongaria, para ilmuwan menemukan bahwa anjing melakukan hal yang sama. Manusia sering berbicara dengan dan di sekitar anjing.

Kondisi ini membuat hewan berbulu ini paling mungkin membuat koneksi tentang kata-kata yang diucapkan orang. Para peneliti dalam penelitian ini juga mengetahui bahwa perhitungan suara yang kompleks semacam ini juga ada di dunia hewan.

"Ini adalah pertama kalinya kami menunjukkan bahwa mamalia non-manusia dapat melakukan ini," kata Mariana Boros, salah satu penulis utama studi tersebut.


“(Anjing) dapat menerapkan perhitungan yang sama persis seperti yang dilakukan bayi untuk mengelompokkan ucapan," jelasnya, seperti dilansir Popular Science.

Para peneliti mencoba memahami bagian otak anjing mana yang membuat perhitungan ini. Untuk memahami hal ini, para peneliti membawa hewan peliharaan K9 ke lab mereka untuk mempelajari aktivitas otak mereka. Anjing-anjing ini duduk untuk pengujian elektroensefalografi (EEG) dan pencitraan resonansi magnetik (MRI), yang keduanya memungkinkan anjing untuk terjaga dan tidak terkendali untuk penelitian.

Pemilik melatih anjing mereka untuk duduk diam selama setidaknya delapan menit untuk pengujian MRI, suatu prestasi tersendiri.

Dalam tes EEG, para peneliti menerapkan elektroda ke kepala anjing, membiarkan mereka bergaul dengan pemiliknya, dan kemudian memainkan rangsangan yang direkam.

Pertama, mereka memainkan aliran panjang pidato yang terdiri dari kata-kata buatan, memvariasikan frekuensi di mana kata-kata ini dimainkan, dan kadang-kadang hanya memainkan suku kata. Kemudian, mereka memainkan rekaman terpisah dari setiap kata, dan suku kata yang tidak membentuk salah satu kata buatan.

Aktivitas EEG menunjukkan bahwa anjing dapat membedakan antara kata yang sering dan jarang dimainkan, tetapi juga dapat membedakan antara kata lengkap dan suku kata yang sama sering dimainkan, perbedaan yang jauh lebih kompleks.

Para peneliti berusaha menemukan dengan tepat di bagian otak mana hal ini terjadi dengan tes MRI.

Sementara anjing-anjing itu duduk di pemindai MRI, mereka memainkan aliran ucapan yang dibangun dari kata-kata yang diulang dalam suatu pola, atau dari suku kata kata yang diacak.

Dua area otak dikaitkan dengan kemampuan membedakan: wilayah otak yang lebih umum, dan wilayah otak khusus. Wilayah otak umum, ganglia basal, merespon lebih kuat terhadap suku kata acak, sedangkan korteks pendengaran, wilayah yang jauh lebih khusus, merespons lebih kuat untuk pidato kata terstruktur.

Baca Juga: Studi: Anjing Ternyata Mampu Memahami Kata-kata yang Lebih Kompleks
Kisah Perjuangan Anjing Berjalan dengan Dua Kaki Viral dan Menginspirasi Banyak Orang



"Pada manusia, di korteks pendengaran, daerah otak yang berhubungan dengan bahasa adalah yang aktif dalam tugas-tugas seperti itu" kata Boros. “Jadi menarik untuk melihat bahwa juga pada anjing, korteks pendengaran memainkan peran yang sangat penting dalam segmentasi kata-kata," ujarnya menambahkan.

Studi tersebut menunjukkan untuk pertama kalinya bahwa mamalia non-manusia, khususnya anjing, mampu membuat penilaian yang rumit ini, dan selain itu, perbedaan ini dibuat di wilayah otak yang sama dengan manusia.

Video Terkait