Manfaatkan Limbah Susu sebagai Penggemukan Maggot, Polisi Ini Raup Omzet Rp10 Juta per Bulan

Polisi Budi Daya Maggot. (Sariagri/ Arief L)

Editor: Tatang Adhiwidharta - Jumat, 5 November 2021 | 15:10 WIB

Sariagri - Susu kadaluarsa dari peternak sapi yang umumnya dibuang begitu saja, di tangan Aipda Dany Eka Saputra (32 tahun) anggota Kepolisian Resor Pasuruan, Jawa Timur mampu dijadikan katalisator atau penggemukan bagi pengembangan budi daya maggot.

Setiap hari selepas bertugas sebagai Bhabinkamtibmas di jajaran Polsek Purwosari, Polres Pasuruan, Aipda Dany selalu meluangkan waktu untuk memeriksa dan merawat puluhan petak budi daya maggot.

Berkat ketelatenan dan ketekunannya, usaha budi daya maggot yang telah dijalani setahun lebih ini mulai membuahkan hasil. Menempati lahan seluas 6 meter x 15 meter di Desa Martopuro, Kecamatan Purwosari, Aipda Dany sudah beberapa kali menikmati hasil panen budi daya maggot.

“Formulanya mudah sekali sampah organik dijadikan tempat pengembangbiakan larva dari Lalat tentara Hitam atau Black Soldier Fly (BSF). Agar larva ini cepat gemuk menjadi maggot yang siap dipanen, ditambahkan katalis limbah susu, “ beber polisi pembudi daya maggot, Aipda Dany Eka Saputra kepada Sariagri, Jumat (5/11/2021).

Ia menyebut BSF (hermetia illucens) merupakan jenis lalat yang ternyata memberikan banyak sekali manfaat dan kuntungan bagi manusia. Terutama hasil panen maggot ini sangat disukai unggas dan ikan sebagai pakan alternatif.

“Maggot BSF memiliki kandungan protein dan nutrisi yang baik serta asam amino yang lengkap sebagai sumber pakan alternatif sejumlah hewan ternak seperti jenis unggas dan ikan, serta sejumlah binatang peliharaan seperti iguana hingga burung berkicau, “ terangnya.

Lebih jauh Aipda Dany menjelaskan fase hidup BSF terbilang singkat hanya rata-rata 7 hari. BFS betina dapat menghasilkan telur berjumlah 500-900 buah yang akhirnya akan menetas menjadi larva.

“Budi daya maggot BSF adalah fase yang dimulai sejak telur-telur dari bsf ini menetas. Selama hidupnya maggot ini memakan hal-hal yang bersifat organik. Maggot dapat menekan limbah organik yang selama ini menjadi masalah bagi kita, dengan jumlah 10.000 larva, dalam waktu 24 jam makanan sebanyak 1 kilo akan habis dilahap oleh maggot, “ kata dia.

Di bawah bendera Omah Maggot Warna Warni (OMWAWA), Aipda Dany sudah beberapa kali melakukan pengiriman ke wilayah Kalimantan dan Sumatera. Jangkauan pasar yang begitu luas ini, dikarenakan usaha sampingan tersebut sudah diunggah ke media sosial.

“Komentar di mesdos untuk pesan maggot ke saya sudah banyak sekali. Selain pelanggan di seputar pulau Jawa, ada juga konsumen di pulau Sumatera dan Kalimantan. Rata-rata yang memesan atau membeli adalah peternak ayam, burung dan peternak ikan lele, “ akunya.

Baca Juga: Manfaatkan Limbah Susu sebagai Penggemukan Maggot, Polisi Ini Raup Omzet Rp10 Juta per Bulan
Ternyata Lalat Tentara Hitam Cocok Sebagai Alternatif Pakan Ternak

Untuk 1 kilogram (kg) maggot kering, ia jual dengan harga Rp15.000. Dari penjualan maggot ini, Aipda Dany mampu menghasilkan omzet hingga Rp10 juta setiap bulannya.

“Alhamdulilah, sebulan rata-rata bisa memberi tambahan penghasilan sekitar Rp10 juta. income ini jujur lebih besar dari gaji yang saya terima sebagai anggota kepolisian, “ pungkasnya.

Video Terkait