Kambing Kacang, Ternak Lokal yang Punya Nilai Ekonomi dan Disukai Petani

Kambing kacang hewan ternak lokal Indonesia.(Balitbangtan)

Editor: Arif Sodhiq - Kamis, 4 November 2021 | 12:40 WIB

Sariagri - Selain bertani, banyak masyarakat di pedesaan yang menggantungkan hidupnya dari berternak mulai skala kecil hingga peternakan besar. Kaming nenjadi salah satu hewan yang dcipilih untuk diternakkan selain sapi, kerbau dan unggas.

Sama dengan usaha peternakan lainnya, beternak kambing berpeluang meraup keuntungan secara ekonomi karena konsumsi masyarakat akan daging hewan ini cukup tinggi. Ada dua pilihan dalam mengembangkan usaha peternakan kambing. Jenis usaha peternakan kambing terbagi menjadi dua yaitu kambing pedaging atau kambing perah yang diambil susunya.

Jika memutuskan untuk beternak kambing pedaging, terdapat bermacam-macam jenis yang bisa dimanfaatkan untuk diambil dagingnya, salah satunya kambing kacang. Kambing lokal ini mudah didapatkan karena tersebar hampir ke seluruh wilayah tanah air.

Hewan ternak ini merupakan rumpun kambing yang telah dibudidayakan sejak lama secara turun menurun. Dilansir dari laman Direktorat Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian (Ditjen PKH Kementan), kambing kacang merupakan kekayaan sumber daya genetik ternak lokal Indonesia yang perlu dilindungi dan dilestarikan.

Ciri-ciri fisik hewan ternak ini yang membedakan dengan kambing lainnya antara lain, memiliki tubuh kecil dan pendek dengan tinggi badan antara 55-65 cm. Kambing ini memiliki telinga kecil dan tegak dan berleher pendek. Selain itu kambing ini memiliki tanduk baik kambing jantan maupun betina.

Ketika dewasa kambing penjantan memiliki bobot 25 kilogram, sedangkan untuk betina 20 kilogram. Hewan ternak ini memiliki warna bulu putih, hitam, coklat atau campuran dari ketiga warna itu. Salah satu keunggulan kambing asli Indonesia ini sangat mudah beradaptasi dengan lingkungan, baik pada cuaca panas maupun dingin.

Untuk pakannya tidak terlalu merepotkan peternak karena bisa diberi pakan tumbuh-tumbuhan di sekitar lingkungan peternakan. Ini akan memudahkan para peternak dalam mencari pakan untuk hewan ternaknya.

Perkembangbiakan kambing kacang terbilang cepat karena mudah sekali melakukan proses produksi. Ketika hewan ternak menginjak usia delapan bulan, seekor kambing betina sudah dapat melakukan proses perkawinan dengan pejantan.

Dalam kurun waktu dua tahun, hewan ternak ini bisa melahirkan hingga tiga kali, bahkan dengan presentase kembar sekitar 52 persen.

Kambing kacang ternak lokal Indonesia

Menurut laman Balitbangtan, kambing kacang merupakan ternak lokal Indonesia yang memiliki nilai ekonomi dan disukai petani. Konstribusi ternak kambing terhadap total pendapatan pertanian untuk ruminansia kecil sangat substansial.

Produksinya juga memegang peranan penting untuk menumbuhkan aktivitas pendapatan sebagian besar petani kecil, selain menjadi sumber protein hewani juga untuk menunjang ketahanan pangan nasional.

Peternakan kambing di Indonesia yang masih berskala kecil perlu diusahakan secara komersial. Sejalan dengan pertumbuhan penduduk dan peningkatan daya beli masyarakat. Kebutuhan daging saat ini belum mencukupi permintaan, ditambah lagi kebutuhan ternak kurban pada Hari Raya Idul Adha.

Upaya untuk mengoptimalkan potensi kambing ini diawali dengan menginventarisasi berbagai sifat kualitatif, kuantitatif yang selanjutnya ditetapkan sebagai salah satu rumpun ternak nasional.

Baca Juga: Kambing Kacang, Ternak Lokal yang Punya Nilai Ekonomi dan Disukai Petani
Mengolah Limbah Peternakan Sapi Potong Menjadi Pupuk Cair untuk Tanaman

Selain untuk mendapatkan legalitas formal secara nasional maupun internasional, langkah ini juga sebagai upaya melestarikan sumber daya genetik ternak (SDGT) agar pemanfaatannya dapat dilakukan secara berkelanjutan.

Kambing lokal ini telah ditetapkan sebagai Rumpun kambing Kacang berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian Nomor 2840/KPTS/LB,430/8/2012.

Video terkait:

Video Terkait