Budidaya Maggot Solusi Kurangi Sampah Organik dan Ubah Perilaku Masyarakat

Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen. (Antara/HO-Humas Pemprov Jateng)

Editor: Arif Sodhiq - Rabu, 27 Oktober 2021 | 18:20 WIB

Sariagri - Budidaya maggot atau larva lalat black soldier fly (BSF) bisa menjadi salah satu solusi dalam pengurangan tumpukan sampah organik. Selain itu budidaya maggot juga diharapkan mengubah perilaku masyarakat dalam memilah sampah.

"Budidaya maggot mampu mengubah perilaku masyarakat terhadap sampah sehingga hal itu menarik sebagai salah satu upaya menyelamatkan bumi karena bisa mengurangi sampah," ujar Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen di Semarang, Rabu (27/10/2021).

Wagub menjelaskan budidaya maggot bisa mengurangi sampah, terutama sampah organik hingga 80 persen.

"Dengan pengurangan sampah yang bisa sampai 80 persen, tidak ada yang terbuang," kata Wagub yang akrab disapa Gus Yasin itu.

Kebutuhan sampah organik untuk budidaya maggot cukup besar. Karena itu, Wagub yakin suatu saat tempat pembuangan akhir (TPA) bisa saja tidak terlalu dibutuhkan karena sampah organik telah diserap masyarakat sebagai bahan dasar pakan maggot.

"Maka saya berharap bukan hanya maggotnya dari sisi ekonomi yang diharapkan juga perubahan budaya masyarakat untuk memilah dan seterusnya," katanya.

Baca Juga: Budidaya Maggot Solusi Kurangi Sampah Organik dan Ubah Perilaku Masyarakat
Begini Tahapan Budi Daya Maggot dengan Mudah, Omzet Bisa Jutaan Rupiah!

Pembudidaya maggot di Desa Kalisapu, Slawi, Afifudin mengungkapkan untuk menghasilkan 50 kilogram maggot per hari, dibutuhkan 500 kilogram sampah organik. Untuk memenuhi kebutuhan itu, dia mendapatkan sampah organik dari dua perumahan, dua pondok pesantren dan kekurangannya mencari di pasar terdekat.

Sampah dipilah dan dimasukkan ke ember tertutup sehingga tidak terlalu menimbulkan bau, kemudian difermentasi dan dua hingga tiga hari kemudian diberikan untuk pakan maggot.

Video terkait:

Video Terkait