Bukan COVID-19! Amerika Serikat Terancam 'Kiamat Babi', Ternyata Ini Penyebabnya

Ilustrasi Babi. (Pixabay)

Editor: Tatang Adhiwidharta - Rabu, 20 Oktober 2021 | 14:20 WIB

Sariagri - Amerika Serikat (AS) kini mendapat masalah baru soal pasokan daging babi yang mulai langka. Kenaikan harga daging babi terjadi dan diprediksi akan semakin melonjak.

Kelangkaan terjadi karena rantai pasokan dan inflasi yang dipicu pandemi. Namun bukan hanya karena itu, kenaikan harga juga terjadi karena UU baru yang dibuat di California, negara bagian pengonsumsi babi terbesar.

Negara bagian itu menerbitkan UU terkait standar khusus untuk induk babi. Babi-babi yang hamil harus diberi ruang yang memadai, setidaknya 24 kaki persegi dalam kandangnya.

Sebelumnya induk babi yang hamil hanya ditempatkan dalam kandang berukuran 7 kali 2 kaki. Kandang ini dapat memberi ruang untuk induk babi itu makan, berdiri, duduk, dan berbaring. Namun babi tidak memiliki ruang untuk berjalan, bergerak bebas, bersosialisasi, dan berbalik. Hal ini dianggap kejam.

"Beberapa produsen daging babi tidak akan membiarkan induk babi berbalik," kata Wakil Presiden Perlindungan Hewan Ternak untuk Masyarakat Manusiawi AS, Josh Balk, dikutip dari CNN International.

"Semuanya kembali ke titik itu dan terus terang, orang Amerika berpikir itu cara biadab untuk memperlakukan mereka,"tambahnya.

Praktis, keberadaan UU ini membuat pasokan babi menjadi langka. Sejumlah warga menggunakan frasa 'kiamat babi' untuk menggambarkan bagaimana makanan wajib mayoritas warga AS bacon, akan hilang dari meja makan mereka. Ini akibat tidak siapnya industri babi pada aturan ini. Kesiapan mereka tidak lebih dari 5%.

"Biaya konstruksi yang tinggi, kendala tenaga kerja, dan kurangnya visibilitas seputar aturan akhir, semuanya berperan dalam respons industri yang minim," kata analis agribisnis Rabobank, Christine McCracken.

Baca Juga: Bukan COVID-19! Amerika Serikat Terancam 'Kiamat Babi', Ternyata Ini Penyebabnya
Mengenal Babi Hitam Jeju, Wagyunya Daging Babi

Waktu penerapan aturan yang singkat juga jadi soal lain. Belum lagi banyak peternak berharap aturan ini mundur. Sementara itu ekonom pertanian dari Universitas Michigan Trey Malone memprediksi aturan ini akan memukul warga AS berpenghasilan rendah. Hal ini berimplikasi pada terbatasnya akses nutrisi warga.

"Apa yang sebenarnya terjadi adalah kami pada dasarnya mencoba membatasi pilihan berbiaya lebih rendah," kata Malone.

"Orang miskinlah yang kemungkinan besar akan terpengaruh oleh kebijakan ini,"paparnya.

Dengan aturan ini, harga daging babi bisa saja naik sekitar US$ 8 setara Rp112 ribu untuk pembelian daging secara tahunan.

Video Terkait