Peternak Kecil dan Menengah Menjerit Akibat Pakan Mahal dan Harga Telur Anjlok

Peternak ayam di Bojonegoro, Jawa Timur. (Foto: Sariagri/Arief L)

Editor: M Kautsar - Kamis, 14 Oktober 2021 | 12:00 WIB

Sariagri - Puluhan peternak ayam petelur yang tergabung dan kelompok Usaha Kecil Menengah (UKM) Rejo Bejoyo Farm di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur terancam kehilangan mata pencaharian.

Kondisi ini lantaran mereka tak kuat lagi membeli pakan ayam yang harganya terus merangkak naik. Beban itu dirasakan kian berat, manakala harga telur selama lebih dari tiga bulan terakhir anjlok dan sulit terkerek naik.

Ketua Kelompok UKM Rejo Bejoyo Farm, Sulkhan Imron mengatakan di wilayah Kecamatan Kanor, Kabupaten Bojonegoro terdapat sekitar 60 peternak ayam petelur. Lebih dari separuh jumlah tersebut saat ini kesulitan dalam membeli pakan yang harganya terus naik.

“Mahalnya harga pakan ayam saat ini, eceran mencapai Rp5.600 per kilogram (kg) membuat peternak terancam bangkrut. Padahal sebelumnya harga pakan jagung hanya dikisaran Rp4.400 dan kemudian naik jadi Rp5.000 hingga sekarang sudah diatas harga itu," keluh Imron, Rabu (13/10).

Sulkhan menjelaskan akibat mahalnya harga pakan dan anjloknya harga jual telur, membuat para peternak merugi besar.

“Satu contoh di Desa Simbatan Bojonegoro, sekitar 35 peternak kecil menengah terancam tutup, lantaran kesulitan keuangan. Mereka bahkan mengaku sudah menjual sebagian ayam, demi bertahan membeli pakan," ucap dia. 

Keputusan peternak mengafkir (menjual) ayam produktif ditempuh lantaran pendapatan dari menjual telur tidak mampu menutupi kekurangan dari mahalnya harga pakan.

Saat ini harga jual telur di tingkat kandang masih dikisaran Rp14.000/kg hingga Rp16.000/kg. Peternak mengaku baru bisa mampu membeli pakan jika harga jual telur mencapai Rp19.000/kg. 

“Artinya dengan harga segitu Rp19.000 per kilo peternak impas. Tidak dapat untung banyak, namun bisa bertahan hidup karena mampu beli pakan," kata dia. 

Atas kondisi ini, para peternak kecil menengah di Bojonegoro berharap pemerintah segera turun mengatasi hal ini. sebab jika tidak segera dilakukan bukan tidak mungkin seluruh anggotanya akan gulung tikar.

“Jika harga pakan terus dibiarkan naik dan telur dibiarkan anjlok harganya. Bisa dimungkinkan 60 peternak kecil menengah akan tutup dan ratusan orang yang mengantungkan hidup dari peternakan ini kehilangan mata pencaharian," ungkapnya.

Baca Juga: Peternak Kecil dan Menengah Menjerit Akibat Pakan Mahal dan Harga Telur Anjlok
Peternak Layer Jatim Kunjungi Kantor Charoen Pokphand Indonesia

Ia mencontohkan, saat ini di kandang tersisa 450 ekor ayam petelur. Padahal sebelum terimbas harga pakan naik dan telur anjlok, ia memiliki 1.000 ekor ayam produktif.

“Dua bulan lalu, saya punya 1.000 ekor dengan produksi per hari mencapai 100 kilogram telur. Sekarang menyusut sisa 450 ekor dengan hasil panen hanya 20 kilogram per hari. Tolonglah jeritan kami didengar wahai penguasa negeri ini. Jangan biarkan hal ini berlarut dan kami kehilangan pekerjaan, “ tandasnya.

Video Terkait