Kisah Joshua, Lulusan S2 dari ITB yang Pilih Jadi Peternak Ayam di Masa Pandemi

Joshua Sahat Halomoan lulusan S2 yang kini beternak ayam. (Foto: Istimewa)

Penulis: M Kautsar, Editor: Reza P - Selasa, 12 Oktober 2021 | 12:40 WIB

Sariagri - Pandemi Covid-19 nampaknya tidak selalu memberikan dampak negatif bagi masyarakat. Pasalnya, saat ini banyak UMKM yang hadir dan membuka lapangan kerja baru di berbagai daerah.

Joshua Sahat Halomoan, pemuda asal Bandung, Jawa Barat ini misalnya. Ia memilih untuk terjun mengembangkan usaha pertanian di tengah merebaknya Covid-19 di Indonesia. 

Sudah hampir satu tahun, lulusan S2 Teknik Elektro ini mengembangkan usaha peternakan ayam broiler di daerah Subang, Jawa Barat. Sebelum terjun ke bisnis peternakan, Joshua mengaku melakukan berbagai riset terkait prospek dan juga pangsa pasar dari ayam pedaging di Indonesia. 

"Awalnya saya liat peluang yang ada, terus prospek dan market-nya. Kalau melihat peternakan ayam ini kan prospeknya banyak karena dikonsumsi di seluruh Indoensia dan demandnya banyak," kata dia kepada Sariagri, beberapa waktu lalu.

"Dari situ saya survei ke pasaran dan cari tahu gimana caranya untuk continue dan supply-nya terus dan tidak terpengaruh dengan kondisi seperti PPKM atau fluktuasi harga di pasaran," lanjut dia.

Setelah melakukan berbagai survei dan riset, Joshua akhirnya melakukan kemitraan dengan PT Japfa untuk pemasaran hasil peternakannya. 

"Jadi akhirnya saya survei dari medsos terus mulut ke mulut dan nemuin satu mitra dan mitranya itu PT Japfa jadi sekarang ada bisnis kemitraan. Nah, si kemitraannya ini menyediakan obat-obatan, pakan sama monitoring atau supervisi atau pengawasan dan edukasi terkait pemeliharaan atau pembudidayaan lalu pembayarannya setelah panen," jelas dia. 

"Kalau saya pribadi menyediakan tanah, kandang sama karyawan dan biaya operasional. Menurut saya itu save dan akhirnya dieksekusi dan secara perputarannya pun cepat kaena ini kan cuma butuh 35 hari bisa dipanen. Bahkan untuk panen pertamanya kita sudah bisa diumur ke 21 hari jadi enggak langsung dipanen. Kan saya ada 12 ribu ayam nanti berlanjut di umur 25 sampai 35 baru abis. Bibit dari Japfa," jelas dia.

Ia menilai bahwa sistem kemitraan dengan perusahaan besar seperti Japfa ini lebih aman untuk para peternak. Pasalnya, perusahaan tersebut telah memiliki kontrak harga kepada para peternak. 

"Kalau sistem kemitraan ini justru lebih save. Jadi mereka memberikan kenyamanan untuk peternak dan ada namanya kontrak harga. Jadi walaupun harga turun tapi harga tetap sesuai dengan kontraknya," jelas dia. 

Baca Juga: Kisah Joshua, Lulusan S2 dari ITB yang Pilih Jadi Peternak Ayam di Masa Pandemi
Raup Omzet Rp54 Juta per Bulan, Milenial Ini Sukses Kembangkan Usaha Ternak Ayam Petelur

Saat ini, Joshua sudah memiliki sekitar 12 ribu ekor ayam broiler dan rencananya dia akan mengembangkan kandangnya menjadi lebih besar dibandingkan sekarang. 

"Karena masih ada lahan, saya ingin membuat kandang yang lebih besar lagi agar kapasitasnya bisa bertambah," pungkas dia.

Video Terkait