Aduh! Keledai Diperdagangkan Secara Brutal Akibat Permintaan Kulit untuk Bahan Obat

Ilustrasi keledai. (Pixabay)

Editor: Tatang Adhiwidharta - Jumat, 8 Oktober 2021 | 16:20 WIB

Sariagri -  Sobat agri, tahukah kamu bahwa kulit keledai ternyata menjadi bahan utama pembuatan obat tradisional China, Ejiao yang sangat terkenal khasiatnya. Diperkirakan, industri ejiao membutuhkan sekitar 4,8 juta kulit keledai setiap tahunnya.

Karena tingginya produksi ejiao, jumlah keledai di negeri tirai bambu itu terus berkurang lebih dari separuh, dari 11 juta pada tahun 1992 menjadi 4,6 juta ekor pada tahun 2018. Karena itu industri obat ini harus mencari kulit keledai ke luar negeri, dan negara-negara di Afrika, Asia dan Amerika Latin menjadi sasaran.

Akan tetapi, Badan Amal Kesejahteraan Hewan Internasional, The Donkey Sanctuary menengarai adanya perlakuan tidak manusiawi pada keledai-keledai yang dibantai untuk diambil kulitnya, demikian dilansir dari horsetalk.co.nz.

Pembantaian keledai dan ekspor kulitnya dilakukan secara ilegal, terutama di negara-negara Afrika seperti Mali, Niger dan Burkina Faso. Di negara tersebut, keledai dicuri dari masyarakat kemudian diperdagangkan dengan cara yang bertentangan dengan hukum nasional dan lokal serta tradisi budaya.

The Donkey Sanctuary, telah menyerukan penghentian segera perdagangan kulit keledai, yang digunakan untuk memproduksi obat tradisional Tiongkok, ejiao. Badan amal mengeluarkan peringatan tersebut saat berbicara di Konferensi Kesejahteraan Hewan Afrika tahunan ketiga, di Ethiopia, awal September 2021 ini.

Manajer Kampanye Suaka Keledai Simon Pope menyebut perdagangan keledai sebagai "kekejaman brutal". Keledai disembelih dengan kaki patah atau terputus, luka yang terinfeksi dan kehamilan yang dgugurkan setelah berhari-hari diangkut menuju tempat pembantaian yang seringkali melanggar undag-undang.

"Hewan yang sangat penting ini mengalami penderitaan yang mengerikan dalam perdagangan global, sering diangkut jarak jauh tanpa makanan, air atau istirahat hanya untuk disembelih secara ilegal, dalam kondisi yang seringkali brutal untuk diambil kulitnya. Ini menciptakan krisis yang tidak bisa kita abaikan," kata Pope.

The Donkey Sanctuary telah berkampanye selama tiga tahun untuk mengekspos perdagangan kulit keledai sebagai penyebab krisis global pada populasi hewan malang itu.

"Jumlah keledai di beberapa negara turun drastis karena permintaan kulit keledai tanpa henti di China untuk menghasilkan ejiao," kata Pope.

Sampai saat ini 18 negara, termasuk Tanzania, Pakistan dan Nigeria, telah mengambil sikap menentang perdagangan dalam upaya untuk melindungi ternak nasional mereka dari kekejaman.

Baca Juga: Aduh! Keledai Diperdagangkan Secara Brutal Akibat Permintaan Kulit untuk Bahan Obat
5 Langkah Strategis Peremajaan Sawit Rakyat Versi Bappenas



Keledai mendukung mata pencaharian sekitar 500 juta orang di beberapa komunitas termiskin di dunia. Mereka mengangkut barang ke pasar, membawa air dan makanan, menyediakan akses ke pendidikan dan merupakan sumber pendapatan penting bagi masyarakat rentan, terutama perempuan.

Video Terkait