Miris! 'Hanya Kulit dan Tulang' Gajah di Bali Disorot Media Asing

Taman Gajah di Bali jadi sorotan media asing. (Al Jazeera)

Editor: Tatang Adhiwidharta - Jumat, 8 Oktober 2021 | 14:10 WIB

Sariagri - Kondisi hewan-hewan di sebuah taman gajah di Bali mendapat sorotan dari media asing, Al Jazeera. Belasan gajah disebut kelaparan dan para staf tak digaji, hal ini imbas penutupan taman karena penjualan tiket anjlok di masa pandemi COVID-19.

Kondisi terbaru Bali Elephant Camp (BEC) yang berlokasi di Badung disebut menawarkan berbagai kegiatan berbasis alam seperti bersepeda melintasi sawah, dan arung jeram.

BEC mengenakan biaya $230 atau setara Rp 3,26 juta untuk naik gajah selama setengah jam untuk dua orang. Kelahiran tiga bayi gajah selama 15 tahun terakhir menunjukkan bahwa BEC telah melebihi persyaratan kesejahteraan hewannya.

"Teman-teman kami di konservasi mengatakan bahwa kami memiliki beberapa gajah paling sehat dan paling bahagia yang pernah mereka lihat!" demikian keterangan yang terpampang di situs web BEC.

Hanya saja, foto-foto yang diambil oleh seorang dokter hewan satwa liar di taman tersebut pada bulan Mei lalu menunjukkan beberapa gajah yang sangat kekurangan gizi. Menurut Haas, gajah-gajah di taman tersebut kini sudah tinggal "kulit dan tulang".

"Anda tidak dapat membayangkan seekor gajah kurus sampai Anda melihatnya sendiri," tutur Femke Den Haas, seorang dokter hewan satwa liar asal Belanda yang telah bekerja di Indonesia selama 20 tahun, melansir Al Jazeera.

Haas sendiri mengunjungi taman tersebut sebagai mitra Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bali. Menurut Direktur BKSDA, Agus Budi Santosa, banyak industri di Bali yang tumbang akibat pandemi COVID-19.

"Tetapi dampak pada perusahaan kecil seperti Bali Elephant Camp sangat parah," ujar Agus. "(Ketika pariwisata berhenti) mereka tidak mampu lagi menutupi biaya operasional, terutama biaya memberi makan gajah. Pemerintah harus membantu mereka dengan membayar makanan dan listrik."

Pada bulan Juli lalu, BEC sempat mengatakan kepada Bali Animal Welfare Association (BAWA) bahwa mereka telah melakukan yang terbaik untuk merawat para gajah. Namun mereka kesulitan memenuhi biaya operasional bulanan $1.400 atau setara Rp 19,8 juta dan mengaku bahwa departemen kehutanan maupun BKSDA tidak menawarkan dukungan keuangan.

Baca Juga: Miris! 'Hanya Kulit dan Tulang' Gajah di Bali Disorot Media Asing
Populasi Badak Jawa di Ujung Kulon Bertambah 2 Ekor, Kado Untuk HUT ke-76 RI

"Anda sebagai perusahaan tidak bisa mengatakan, 'Tak ada lagi pengunjung jadi saya tidak akan merawat gajah-gajah lagi'," kata Haas.

"Itulah yang terjadi dan sangat menjijikan karena gajah-gajah ini telah memberi mereka keuntungan selama 15 tahun. Jadi saya tidak percaya ketika mereka mengatakan mereka tidak punya uang. Gajah tidak terlalu mahal untuk dirawat. Biayanya $200 sebulan untuk memberi makan per ekor,"jelasnya.

Video Terkait