China Waspadai Hewan Liar yang Rentan Kena COVID-19, Varian Baru?

Ilustrasi kelelawar dan COVID-19 (Pixabay)

Editor: Tatang Adhiwidharta - Selasa, 5 Oktober 2021 | 15:20 WIB

Sariagri - Sebuah penelitian kesehatan di China menyerukan pemantauan intensif terhadap hewan liar untuk mengantisipasi munculnya virus varian baru yang lebih berbahaya. Kepala Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit China, Gao Fu, memperingatkan bahwa ada potensi penyebaran di antara spesies hewan liar dengan tingkat yang berbeda.

Ia menyebut pemantauan perlu dilakukan untuk mengantisipasi risiko timbulnya varian yang lebih berbahaya. Seperti diberitkan South China Morning Post, sejumlah hewan telah ditemukan rentan terhadap COVID-19. Adapun, potensi mutasi virus yang berkelanjutan diyakini terdapat pada hewan liar, salah satunya cerpelai.

"Sejumlah hewan telah ditemukan rentan terhadap COVID-19, dan potensi mutasi virus yang berkelanjutan pada hewan-hewan tersebut sehingga ancaman besar bagi kesehatan masyarakat jika mereka menularkan kembali ke manusia,” ujarnya.

Buletin mingguan Center for Disease Contol and Prevention (CDC) China, juga mengatakan saat ini penting untuk melakukan skrining Sars-CoV-2 skala besar untuk satwa liar darat dan laut, terutama yang rentan. Hal ini untuk merumuskan strategi pencegahan dan pengendalian lebih lanjut.

Gao melanjutkan, skrining menyeluruh pada hewan-hewan terpapar COVID-19 menjadi upaya dalam rangka menjadi petunjuk asal sumber dari virus Corona yang masih belum menemukan titik terang.

Adapun, laporan hewan yang terinfeksi SARS-CoV-2 telah didokumentasikan di seluruh dunia. Sebagian besar hewan ini terinfeksi setelah kontak dengan penderita COVID-19, termasuk pemilik, pengasuh, atau orang lain yang pernah melakukan kontak dekat.

Ada 11 Spesies yang Terinfeksi COVID-19

Gao memerinci, saat ini tercatat 11 spesies yang terinfeksi COVID-19 yaitu hewan pendamping, termasuk kucing dan anjing peliharaan dan satu musang. Hewan di kebun binatang dan cagar alam, termasuk beberapa jenis kucing besar, berang-berang, dan primata non-manusia, mink di peternakan mink, dan rusa ekor putih liar di beberapa negara bagian Amerika Serikat (AS).

“Mulai dari harimau, gorila, macan tutul, rusa berekor putih, hingga cerpelai. 14 spesies lainnya telah diidentifikasi dapat terinfeksi melalui percobaan laboratorium," ujarnya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan banyak penelitian telah dilakukan CDC untuk mempelajari lebih lanjut tentang bagaimana virus ini dapat mempengaruhi hewan yang berbeda. Temuan ini didasarkan pada sejumlah kecil hewan, dan tidak menunjukkan apakah hewan dapat menyebarkan infeksi ke manusia.

Penelitian eksperimental terbaru menunjukkan bahwa banyak mamalia, termasuk kucing, anjing, tikus bank, musang, kelelawar buah, hamster, cerpelai, babi, kelinci, anjing rakun, tikus pohon, dan rusa berekor putih dapat terinfeksi virus.

“Kucing, musang, kelelawar buah, hamster, anjing rakun, dan rusa berekor putih juga dapat menyebarkan infeksi ke hewan lain dari spesies yang sama di laboratorium,” katanya.

Baca Juga: China Waspadai Hewan Liar yang Rentan Kena COVID-19, Varian Baru?
Negara Ini Laporkan Kematian Hewan Pertama Akibat COVID-19

Sejumlah penelitian telah menyelidiki primata non-manusia sebagai model untuk infeksi manusia. Kera rhesus, kera cynomolgus, babon, grivet, dan marmoset biasa dapat terinfeksi SARS-CoV-2 dan menjadi sakit di laboratorium.

Ada beberapa bukti yang menunjukkan bahwa tikus laboratorium, yang tidak dapat terinfeksi dengan strain asli SARS-CoV-2, dapat terinfeksi dengan varian virus baru. Sementara itu, ayam dan bebek tampaknya tidak terinfeksi atau menyebarkan infeksi berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan.

Video Terkait