Cara Menentukan Segmentasi Pasar pada Usaha Penggemukan Sapi Potong

Ilustrasi - Peternakan sapi.(Pixabay)

Editor: Arif Sodhiq - Kamis, 23 September 2021 | 17:20 WIB

Sariagri - Penggemukan (fattening) sapi saat ini dinilai sebagai salah satu peluang bisnis yang menguntungkan. Model usaha ternak ini tidak membutuhkan waktu lama, hanya sekitar 4-5 bulan dan tidak dimulai sejak sapi masih anakan.

Sebelum melakukan bisnis penggemukan sapi, ada beberapa langkah yang perlu diperhatikan. Salah satunya menentukan target pasar setelah penggemukan yang terbagi menjadi dua segmentasi.

Segmen penjualan penggemukan sapi potong harian

“Umumnya untuk pemotongan harian sapi yang dipotong tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil. Biasanya para penjagal itu menentukan spek untuk potongan harian antara 400-500 kilogram,” ujar Edy Wijayanto, mentor sapi bagus farm, dikutip dari Channel Youtube Sapibagus TV, Kamis (23/9/2021).

Edy menyebutkan jenis sapi untuk potongan harian di antaranya sapi Bali yang memiliki bobot maksimal selama hidupnya antara 400-500 kilogram. Selanjutnya jenis sapi Brahman cross (BX) dengan bobot antara 400-550 kilogram.

“Peternak harus rutin setiap hari memasok sapi untuk keperluan jagal sapi. Jangan sampai di minggu atau hari berikutnya berhenti, tentunya buat para jagal atau tukang daging akan menjadi hambatan karena dia perlu jaminan pasokan,” jelasnya.

Edy menyarankan pelaku bisnis penggemukan sapi jika hanya memiliki 100 ekor sapi jangan dipaksakan untuk menjual pada keperluan potongan harian. Menurut dia, bagi yang ingin bermain pada segmen harian paling tidak memiliki sapi sekitar 300-500 ekor sapi.

Segmen penjualan penggemukan sapi potong pasokan musiman

Edy menjelaskan, untuk pasokan seperti perayaan hari besar (Idul Fitri dan Idul Adha) memerlukan sapi dengan bobot yang besar yaitu di atas 600 kilogram per ekor.

“Kenapa demikian, saat Idul Fitri diperlukan jenis sapi yang besar bobot di atas 600 (kg), karena saat lebaran yang diperlukan daging murni, jadi sebagian besar masyarakat itu membeli daging murni bukan tetelan, jeroan, kaki, daging kepala itu kurang laku,” jelasnya.

Jenis sapi yang diperlukan untuk memasok kebutuhan musiman antara lain Limousin, Simental, Brahman dan sapi Grandong yang bobotnya rata-rata 600 kilogram ke atas. Menurut dia, harga sapi juga berbeda dengan hari biasa.

“Kalau ibaratnya pada hari-hari biasa seperti sekarang ini harga karkas (timbangan hidup) sapi lokal kisaran Rp96-Rp98 ribu per kilo itu daging plus tulangnya, namun harga daging murninya berkisar antara Rp120-130 ribu,” terangnya.

Edy menyarankan pelaku usaha penggemukan yang memiliki jumlah sapi 10 – 50 ekor untuk bermain di segementasi pasar pasokan musiman seperti saat Idul Fitri.

Baca Juga: Cara Menentukan Segmentasi Pasar pada Usaha Penggemukan Sapi Potong
Pemprov Lampung Gali Potensi Peternakan dengan Sistem Klaster

“Dan yang terakhir adalah saat musim Idul Adha. Nah disitulah potensi yang paling besar menguntungkan buat para penggemuk sapi potong. Karena saat Idul Adha permintaan sapi jantan cukup besar, mulai dari bobot 250 kg-1 ton, harganya sangat menarik,” tambahnya.

Dia mencontohkan jika harga karkas sapi pada hari biasa Rp45 ribu-Rp50 ribu, saat Idul Adha bisa mencapai Rp60ribu-Rp100 ribu. Namun, lanjut dia, jika ingin menjual sapi saat Idul Adha, pelaku usaha perlu memiliki jaringan penjualan.

Video terkait: 

 

Video Terkait