Cerita Didi, Pria Asal Sleman yang Rela Tinggalkan Jabatan Manager BUMN untuk Jadi Peternak

Didi, seorang manajer BUMN yang memilik beternak. (Foto: Youtube Cap Capung)

Penulis: M Kautsar, Editor: Reza P - Rabu, 22 September 2021 | 17:50 WIB

Sariagri - Bekerja di BUMN mungkin menjadi impian bagi sebagian orang. Namun, tidak demikian dengan Didi, seorang pria asal Dusun Kemiri Kebo, Desa Girikerto, Turi, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Pada 2010 dia memilih untuk berhenti dari pekerjaannya yang sudah menduduki posisi sebagai manager muda di salah satu perusahaan BUMN. Saat itu, Didi bersama sang kakak mulai terjun menjadi peternak kambing perah di desanya. 

Menurut dia, pekerjaannya sebagai seorang peternak kambing perah lebih membahagiakan dibandingkan harus duduk sebagai seorang manager di perusahaan milik negara. 

“Hal yang saya dapatkan ketika saya beternak adalah rasa bahagia, rasa syukur, dan rasa merdeka atas hidup kita. Karena sebenarnya beternak itu membahagiakan, mensejahterakan, dan sunatullah, seperti profesi nabi-nabi kita,” ungkap Didi dikutip dari kanal YouTube Cap Capung pada Rabu (22/9).

Setelah dua tahun belajar beternak kambing perah dengan sang kakak, Didi akhirnya memutuskan untuk membangun sendiri usahanya pada 2012 dengan 70 ekor kambing jawa randu dan satu ekor pejantan kambing saanen.

Pada awal menjalankan usahanya, Didi mengaku tidak langsung berhasil. Maklum, saat itu dia sama sekali tidak memiliki pengetahuan mengenai cara beternak kambing. Bahkan, dia harus kehilangan 30 kambing karena mati. 

“Kami belajar secara otodidak. Memang ‘biaya pelatihannya’ jadi sangat mahal, karena kami kehilangan banyak ternak yang disebabkan ketidaktahuan kami. Kalau satu kambing harganya Rp600.000, waktu itu saya kehilangan aset hampir 18 juta. Akhirnya seiring waktu, kami terus belajar dan bisa meminimalkan kerugian ternak yang sebenarnya tidak perlu terjadi,” kata Didi.

Didi mengatakan, dalam beternak kambing perah, salah satu hal yang terpenting adalah genetik. Ia menjelaskan, secara teori, kambing perah terbaik adalah Kambing Saanen.
Oleh karena itu Didi menggunakan kambing jenis itu sebagai pejantan. Sementara itu untuk indukan, Didi menggunakan kambing lokal yaitu kambing sapera.

Baca Juga: Cerita Didi, Pria Asal Sleman yang Rela Tinggalkan Jabatan Manager BUMN untuk Jadi Peternak
Inspiratif! Pemuda Lulusan S2 Jadi Peternak dan Dirikan Bank Limbah Kotoran Sapi

“Kelebihan sapera adalah karena sudah adaptif dengan lingkungan Indonesia, dia jadi lebih kuat dan adaptif terhadap lingkungan Indonesia dan lebih tahan pula terhadap penyakit. Sapera yang dirawat dengan baik mampu menghasilkan dua liter susu,” kata Didi.

Dalam melakukan usaha ternak kambing, Didi menyusun formula menu yang disebutnya sebagai empat sehat lima sempurna. Menu pertama adalah Sumber Daya Manusia, menu kedua adalah genetik, menu ketiga adalah sistem perawatan ternak, menu keempat adalah cash flow atau manajemen keuangan, dan yang kelima adalah marketing.

Video Terkait