Solusi Jitu Pengurai Sampah Organik dengan Budi daya Maggot yang Menggiurkan

Ilustrasi peternakan burung puyuh. (Foto: Istimewa)

Editor: M Kautsar - Senin, 20 September 2021 | 16:10 WIB

Sariagri - Sampah organik yang kerap menjadi masalah bagi warga, ternyata menjadi berkah bagi Dani, dan anggota kelompok Motekar, di Kecamatan Kadipaten Tasikmalaya, Jawa Barat lainnya, melalui Budidaya Maggot dan Azola (BuMala).

Selain membantu ekonomi warga menjadi cuan rupiah dari olah pakan ternak alternatif yang menjanjikan, suntikan program Corporate Social Responsibility (CSR) Pertamina Geothermal Energy (PGE) itu, terbukti jitu mengatasi persoalan sampah organik rumah tangga dan sampah organik lainnya di wilayah itu.

“Prosesnya juga tidak lama, 12-15 hari sudah bisa dipanen,” ujar Dani mengawali pembicaraan mengenai manfaat budi daya maggot dan azolla di kampung halamannya, beberapa waktu lalu.

Maggot merupakan larva lalat Black Soldier Fly (BSF) yang kaya nutrisi, cukup potensial dalam meningkatkan produktivitas peternakan dan perikanan. Selain singkat dalam budi daya, juga mampu diolah menjadi tepung (mag meal) untuk menekan biaya produksi pakan ternak.

Menurutnya, budi daya maggot cukup efektif dalam mengurai sampah organik tanpa campuran kimia. Ragam sampah organik yang berasal dari rumah tangga, termasuk lingkungan sekitar, bisa diurai dengan singkat tanpa menimbulkan bau yang menyengat.

“Awalnya kami mendapatkan bantuan dari program (CSR Pertamina) dikasi perpupa sebanyak 500 gram dan telurnya 1 gram,” kata dia.

Dalam praktiknya, selain murah karena tidak memerlukan teknologi canggih dan modal secukupnya, lahan yang digunakan bisa disesuaikan tanpa syarat.

“Pengawasannya pun terbilang mudah, sebab dengan sendirinya maggot akan menguraikan sampah,” kata dia.

Dalam catatannya, dari sekitar 15 ribu larva BSF atau istilah lain ‘tentara lalat hitam terbang’, mampu menghabiskan atau mengurai sekitar dua kilogram limbah organik hanya dalam waktu 24 jam.

“Mau sampah sisa makanan, sayuran, buah-buahan atau sisa limbah peternakan bisa digunakan sebagai media,” ujar dia.

Anggota kelompok ujar dia, tinggal mengumpulkan sampah organik untuk selanjutnya dimasukan dalam sebuah kotak yang telah disediakan sebagai media pengurai yang akan digunakan maggot. “Kelompok kami jelas terbantu dengan bantuan CSR Pertamina Karaha ini, selain mudah juga menghasilkan mata pencaharian baru terutama saat sulit seperti saat ini akibat corona (Covid-19)” ujarnya.

Hasilnya dalam kurun waktu setahun, modal awal dari bantuan itu tumbuh menjadi lahan bisnis menjanjikan, dengan sejumlah produk peternakan seperti telur itik dan telur puyuh yang dihasilkan saat ini. “Rencana dalam waktu dekat saya akan mencoba ke lele, sebab saat pertama kali mencoba hasilnya memuskan,” kata dia.

Saat itu, dalam kurun waktu 12 hari, ratusan ekor bibit ikan lele sebesar jari tangan yang ia besarkan dalam media terpal buatan, mampu berkembang pesat hingga sebesar pergelangan tangan. “Kalau normal itu untuk mendapatkan ukuran sebesar pergelangan tangan bisa sampai 2 bulan (60 hari)” kata dia.

Video Terkait