Membedah Problematika Harga Telur Ayam yang Seolah Tak Kunjung Usai

Ilustrasi - Harga telur ayam anjlok.(Pixabay)

Editor: Arif Sodhiq - Jumat, 17 September 2021 | 14:00 WIB

Sariagri - Rendahnya harga telur ayam dan melonjaknya jagung pakan menyebabkan banyak peternak menjerit. Mengapa harga telur sering fluktuatif dan bahkan terkadang anjlok seperti saat ini?

Dosen Fakultas Peternakan IPB University, Niken Ulupi mengatakan anjloknya harga telur ayam dipengaruhi mekanisme pasar. Saat ini permintaan telur ayam cenderung rendah karena pembatasan kegiatan masyarakat selama pandemi COVID-19, sedangkan suplai telur tetap dan cenderung meningkat.

“PPKM menyebabkan serapan telur menjadi berkurang, khususnya untuk penggunaan industri horeka. Ketika permintaan turun, tetapi jumlah produksinya tetap maka suplai pun menjadi berlebih,” kata Niken kepada Sariagri.id, Jumat (17/9/2021).

Menurut Niken, ketika suplai telur berlebih, biasanya tengkulak akan mematok harga rendah kepada peternak. Para tengkulak, lanjut dia, dapat membayar telur secara tunai kepada peternak yang membutuhkan dana untuk penyediaan pakan atau biaya produksi selanjutnya.

“Daripada tidak terjual, karena peternak juga butuh uang tunai untuk penjadwalan pakan berikutnya. Jadi tidak ada pilihan bagi peternak untuk menjual telur dengan harga murah,” jelasnya.

Banyak bermunculan peternak ayam petelur baru

Suplai telur yang melimpah disinyalir juga karena munculnya pemain baru di sektor produksi telur ayam. Pandemi COVID-19, lanjut Niken, telah banyak memberhentikan pekerja sektor formal dengan alasan efisiensi perusahaan.

“Disinyalir ada yang dipensiunkan lebih awal dengan pesangon, mereka kemudian join untuk membangun usaha peternakan yang paling mungkin dan sepertinya gampang,” sebutnya.

Menurut Niken, umumnya para pemain baru yang bermunculan akan mengalami kendala dalam pemasaran.

“Begitu sudah dijalani betul memang beternak itu gampang, untuk memproduksi hanya perlu mengikuti SOP yang ada, begitu memasarkan mulai kelabakan. Ketika tidak bisa memasarkan, maka yang akan datang broker atau tengkulak yang seringkali mematok harga rendah,” ungkapnya.

Harga jagung pakan melambung tinggi

Niken mengungkapkan, sebenarnya peternak juga tidak mengharapkan harga telur yang terlalu tinggi. Penternak lebih berharap apabila harga telur bisa wajar dan stabil.

“Meskipun konsumen senang dengan harga telur yang murah, tetapi seharusnya penurunan harga masih dalam batas yang wajar dan bisa menutup biaya produksi peternak,” katanya.

Kerugian semakin besar yang dirasakan peternak disebabkan harga jagung pakan yang kian melambung tinggi. Padahal jagung pakan menyumbang lebih dari 50 persen komponen pakan ayam petelur.

“Harga pakan terus mengalami kenaikan dari Rp3.800 per kilogram, naik hingga Rp6.000 per kilogram,” ungkapnya.

Jika harga jagung masih dalam taraf wajar dan stabil, lanjut Niken, fluktuasi harga dan kerugian peternak tidak akan separah seperti saat ini. Dia menjelaskan harga jual telur ayam yang ideal di tingkat peternak berbeda-beda di setiap wilayah. Misalnya, di Jakarta, harga telur ayam di tingkat peternak idealnya berkisar Rp19.000 – Rp20.000 per kilogram sehingga harga ideal di tingkat konsumen bisa di kisaran Rp24.000 – Rp25.000 per kilogram.

Niken mengungkapkan, pasokan jagung pakan dari dalam negeri belum bisa menutupi jumlah kebutuhan jagung pakan secara keseluruhan. Rendahnya pengetahuan dan fasilitas yang dimiliki petani untuk mengolah jagung menjadi pakan ternak jadi salah satu masalah yang belum bisa diselesaikan hingga kini.

Niken berpendapat, impor jagung pakan tidak menjadi masalah sebab hal itu dibutuhkan untuk menstabilkan harga jagung pakan dan menyuplai semua kebutuhan peternak.

Stabilisasi harga telur ayam secara berkelanjutan

Stabilisasi harga telur salah satunya bisa dilakukan dengan menyeimbangkan antara produksi dan penyerapan telur ayam.

Niken mengatakan, rata-rata di peternakan telur cenderung memproduksi telur ayam secara stabil dan berkelanjutan, namun selama ini penyerapan konsumen yang tidak stabil.

“Seharusnya harga telur bisa relatif lebih stabil dibandingkan dengan harga daging ayam,” ungkapnya.

Telur ayam seringkali mengalami peningkatan harga pada hari besar keagamaan atau hari raya lainnya di mana konsumsi rumah tangga meningkat pesat.

“Biasanya ketika perayaan hari besar keagamaan biasanya harga telur melonjak tinggi karena permintaan meningkat. Hukum pasar yang berperan selama ini dalam menentukan harga.” jelasnya.

Niken menyarankan agar segera dibangun industri pengolahan telur ayam di sentra-sentra produsen telur. Ini sebagai upaya meningkatkan penyerapan dan stabilisasi harga telur secara berkelanjutan.

Telur ayam tidak bisa disimpan lebih lama dari sebulan di suhu ruang maupun di lemari berpendingin. Berbeda dengan daging ayam yang bisa disimpan dalam waktu lama di gudang berpendingin. 

“Salah satu solusi agar harga telur stabil yaitu membangun industri pengolahan telur di wilayah sentra produksi telur. Namun dengan catatan, harga pakan harus stabil dan tersedia. Industri pengolahan telur bisa dalam bentuk tepung telur utuh, atau tepung putih telur dan tepung kuning telur,” jelasnya.

Niken menjelaskan, kelebihan tepung telur bisa dikonsumsi dan disimpan lebih lama. Nantinya konsumen bisa memilih untuk konsumsi kuning telur atau putih telur sesuai dengan kebutuhan asupan gizi dan usia konsumen.

“Konsumen anak-anak yang membutuhkan protein tinggi bisa mengkonsumsi tepung kuning telur, sementara kalangan dewasa atau lansia bisa mengkonsumsi tepung putih telur yang rendah kolesterol,” jelasnya.

Baca Juga: Membedah Problematika Harga Telur Ayam yang Seolah Tak Kunjung Usai
Kementan Prioritaskan Kesejahteraan Peternak Lewat Stabilisasi Perunggasan

Niken menambahkan, sebelum membangun industri pengolahan telur juga diperlukan edukasi dan promosi kepada masyarakat terkait produk olahan telur agar nantinya produk bisa terserap dengan baik di kalangan masyarakat.

“Jangan sampai nanti sudah dibangun industri tepung telur atau olahan telur yang lain tetapi tidak ada edukasi dan promosi, nanti sama masalahnya di pasarkan kemana produknya. Jadi perlu diberi pemahaman ke masyarakat terkait manfaat, gizi, dan secara kebersihan itu lebih bagus itu nanti akan membuka peluang usaha baru. Diversifikasi usaha diperlukan untuk meningkatkan daya saing usaha sekaligus mengatasi fluktuasi harga,” pungkas Niken.

Video terkait:

 

 

Video Terkait