Dengan Teknik Pirolisis, Kotoran Sapi dan Limbah Susu Bisa Jadi Pupuk Kaya Nutrisi

Limbah kotoran sapi. (Foto: Istimewa)

Editor: M Kautsar - Rabu, 1 September 2021 | 19:40 WIB

Sariagri - Kotoran sapi adalah limbah peternakan yang selalu memusingkan para peternak sapi, baik sapi perah maupun sapi pedaging. Kotoran sapi yang tidak diolah akan terus menumpuk dan mengganggu lingkungan. Namun dengan teknik pirolisis, kotoran sapi bisa diolah menjadi pupuk yang berkelanjutan.

Baca Juga: Dengan Teknik Pirolisis, Kotoran Sapi dan Limbah Susu Bisa Jadi Pupuk Kaya Nutrisi
Masyarakat Lamping Kidang Kuningan, Mulai Manfaatkan Limbah Kohe jadi Pupuk Organik



Pirolisis adalah proses memanaskan kotoran sapi pada suhu 371 derajat Celcius hingga 649 derajat Celcius, tanpa oksigen, yang dimaksudkan untuk mengurai bahan organik dan mempertahankan nutrisinya. Proses ini akan mengubah kotoran sapi menjadi pupuk biochar yang ramah lingkungan dan dapat dikelola.

Pirolisis juga bisa digunakan untuk mendaur ulang limbah susu untuk memproduksi nitrogen untuk melengkapki kandungan nutrisi pupuk. Teknik ini merupakan hasil penelitian yang telah diterbitkan di Nature Scientific Reports.

Teknik pirolisis memungkinkan peternak sapi atau produsen susu berhenti menimbun kotoran di laguna pertanian atau menyebarkannya begitu saja di ladang terdekat. "Dengan menggunakan pirolisis kotoran padat dan retensi nutrisi dari cairan ke biochar, kita bisa membuat pupuk dari limbah. Itu komoditas yang bisa dipasarkan," kata Johannes Lehmann, Profesor di Liberty Hyde Bailey, di Sekolah Tinggi Pertanian dan Ilmu Hayati, seprti dikutip dari Cornell.edu.

Petani pun bisa menyimpan pupuk ini dengan mudah. "Petani bisa menebarkan pupuk ini saat tanaman di ladang membutuhkannya, bukan saat petani harus membuang pupuk kandang,” imbuhnya.

Pupuk komersial yang terbuat dari nitrogen, fosfor, dan kalium dibuat menggunakan input karbon seperti gas alam, belerang, batu bara, dan endapan batuan. Jika pertanian dapat mendaur ulang nitrogen dari limbah susu, kata Lehmann, maka pertanian dapat mengurangi input karbon yang berasal dari bahan bakar fosil.