Ribuan Bayi Burung di Pulau Ini Habis Dimakan Kelabang Raksasa

Ilustrasi kelabang raksasa. (Pixabay)

Editor: Tatang Adhiwidharta - Senin, 23 Agustus 2021 | 11:45 WIB

Sariagri - Kelabang raksasa karnivora yang berada di Pulau Pasifik dapat membunuh dan memakan hingga 3.700 anak burung laut setiap tahun. Melansir dari Science Alert, sebuah penelitian mengungkapkan sejumlah ilmuwan, mengatakan kelabang berjenis Philip Island atau Cormocephalus coynei ini merupakan binatang buas dengan panjang hingga satu kaki atau 30 sentimeter.

Kelabang raksasa tubuhnya dibalut pelapis baja dan dilengkapi dengan racun yang kuat. Mereka dapat menyuntikkan racun ke korban tanpa disadari melalui tancapan seperti penjepit.

Sebuah studi terbaru menunjukkan bahwa dengan berburu dan memakan ribuan bayi petrel bersayap hitam (Pterodroma nigripennis) setiap tahun, kelabang merupakan predator puncak yang tak terbantahkan di Philip Island yang terletak 1.400 kilometer dari timur Australia.

"Dalam beberapa hal, mereka telah mengambil tempat (atau ceruk ekologis) mamalia pemangsa, yang tidak ada di pulau itu," tulis para peneliti dalam The Conversation.

Kegiatan memangsa itu pun terjadi pada malam hari. Kelabang akan keluar dari sarangnya untuk mengintai mangsa. Dengan dua antena sensitifnya, mereka menavigasi jalan melintasi hutan yang berfungsi sebagai tempat berburu.

Sasarannya adalah anak-anak Petrel bersayap hitam yang membangun sarang di tanah. Kelabang akan menyerang saat anak burung beristirahat, ia mengikis daging dari bagian belakang leher bayi burung dan menyuntiknya dengan racun mematikan lalu memakannya hidup-hidup saat terjadi kelumpuhan.

Para peneliti memperkirakan bahwa kelabang mengonsumsi sekitar 2.109 hingga 3.724 anak burung petrel setiap tahun. Hal itu didasari dari pengamatan saat mereka berburu dan analisis sampel jaringan yang diambil dari perut serta sisa korban yang hidup.

Peneliti mengklaim studi ini menjadi yang pertama mengungkap kelabang memangsa burung laut. Selain anak burung, kelabang juga memakan tokek, kadal, jangkrik dan ikan yang terdampar di tanah.

Dalam penelitian ini, tim menghabiskan 132 jam untuk melacak dan mengamati kelabang saat mereka berburu di malam hari. Setelah memasukkan rekaman ke dalam model untuk memprediksi makanan kelabang, para peneliti menemukan 48 persen asupan makanan predator berasal dari hewan vertebrata atau hanya 8 persen berasal dari anak burung laut.

Baca Juga: Ribuan Bayi Burung di Pulau Ini Habis Dimakan Kelabang Raksasa
Studi: Populasi Penguin Bisa Terancam Punah di 2100

Meski demikian, kelabang penting dalam ekosistem pulau tersebut. Dia membawa nutrisi dari laut ke darat yang berguna untuk pertumbuhan kembali vetegasi pulau.

"Ini bisa memiliki konsekuensi penting untuk memahami struktur trofik di pulau-pulau dan bagaimana komunitas vertebrata terbentuk, mungkin terutama di pulau-pulau, di mana gigantisme artropoda adalah umum dan proses evolusi telah memungkinkan invertebrata menempati relung baru," tulis para peneliti dalam penelitian tersebut.

Video Terkait