Biar Tidak Berebut Kedelai, Ilmuwan Temukan Pakan Alternatif untuk Peternakan Babi

Peternakan babi. (Pixabay)

Editor: Arif Sodhiq - Rabu, 11 Agustus 2021 | 12:20 WIB

Sariagri - Hingga kini masih banyak peternakan babi yang menggunakan bungkil kedelai sebagai pakan ternak. Keterbatasan suplai ditambah tingginya permintaan konsumsi manusia menyebabkan harga kedelai menjadi lebih tinggi. Selain itu, perluasan areal tanam kedelai secara intensif karena tuntutan permintaan bisa berdampak pada kerusakan lingkungan.

Penelitian terbaru yang dilakukan ilmuwan Wageningen University dan Leiden University di Belanda menemukan larva lalat tentara hitam dapat menggantikan bungkil kedelai sebagai sumber protein pada pakan babi yang sedang dalam masa pertumbuhan.

“Ada tekanan yang semakin kuat terhadap penggunaan bungkil kedelai sebagai sumber protein pada pakan ternak karena budidaya kedelai membutuhkan lahan pertanian yang juga digunakan untuk tanaman pangan. Larva lalat tentara hitam berpotensi menjadi sumber protein yang berkelanjutan karena dapat ditanam pada limbah dan aliran residu dari produksi makanan,” ujar Soumya Kanti Kar.

Dalam studinya, para ilmuwan mempelajari dua kelompok babi yang sedang dalam masa pertumbuhan. Satu kelompok babi diberi makanan bungkil kedelai, sedangkan kelompok lainnya diberi pakan larva lalat tentara hitam. Mereka menggunakan pendekatan FeedOmics di mana dapat membantu memastikan dampak diet di tingkat usus dan sistemik darah babi secara bersamaan. Hasilnya, larva lalat tentara hitam mendukung pertumbuhan taksa mikroba usus babi yang merupakan indikator kesehatan usus babi. 

Baca Juga: Biar Tidak Berebut Kedelai, Ilmuwan Temukan Pakan Alternatif untuk Peternakan Babi
Ilmuwan Temukan Babi Rekayasa Genetika yang Tahan Penyakit

Kar menjelaskan, secara singkat. hasil penelitian menemukan babi yang diberi makan larva lalat tentara hitam sama sehatnya atau bahkan lebih sehat dibanding babi yang diberi makanan bungkil kedelai. Penemuan ini akan membantu industri peternakan menemukan sumber protein alternatif yang berkelanjutan.

"Hasil dari penelitian ini menjanjikan. Negara-negara anggota Uni Eropa telah memutuskan untuk mengizinkan pemberian protein dari serangga ke unggas dan babi. Keputusan Komisi Eropa ini tidak diragukan lagi akan memberikan dorongan signifikan bagi industri yang sedang berkembang, yang diperkirakan tumbuh 10 kali lipat menjadi lebih dari $4,1 miliar pada tahun 2025," kata Kar dikutip dari phys.org.

Video terkait:

Video Terkait